BWP Ketiga Puluh: Menghadirkan Narasi Kekuasaan dan Trauma lewat Seni Potong Kertas

Program yang digagas Ace House Collective ini menampilkan dua perupa, Mujahidin Nurrahman dan Rudy Atjeh Dharmawan

Tayang:
Penulis: Santo Ari | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/Santo Ari
PAMERAN: Suasana pembukaan pameran BWP #30 Kertas: Monumen, Hantu, dan Luka di Galeri Ace House, Jumat (5/12/2025) 

Ringkasan Berita:
  • Seni potong keras hasil karya dua perupa, Mujahidin Nurrahman dan Rudy Atjeh Dharmawan, dipamerkan dalam pameran Broken White Project edisi ketiga puluh.
  • Pameran berlangsung di Galeri Ace House, Langgeng Art Space, Jalan Suryodiningratan 37 Yogyakarta, mulai 5 Desember 2025 sampai 16 Januari 2026.

 

TRIBUNJOGJA.COM - Di Yogyakarta, perbincangan tentang ingatan kolektif dan kekuasaan kembali hadir melalui pameran Broken White Project edisi ketiga puluh. Program yang digagas Ace House Collective ini menampilkan dua perupa, Mujahidin Nurrahman dan Rudy Atjeh Dharmawan, yang sama sama menekuni teknik memotong kertas dengan ketelitian ekstrem. 

Pameran berlangsung di Galeri Ace House, Langgeng Art Space, Jalan Suryodiningratan 37 Yogyakarta, mulai 5 Desember 2025 sampai 16 Januari 2026.

Broken White Project sejak awal dirancang sebagai ruang eksplorasi dan pendalaman proses kreatif. Para seniman terpilih mengikuti pendampingan intensif bersama tim Ace House Collective, dengan fokus pada pengembangan kerja artistik dan kegiatan yang menekankan kerja perawatan.

Program ini mendorong para seniman meninjau kembali metode berkarya sekaligus membuka ruang bagi refleksi personal dan sosial.

Saling beresonansi

Edisi terbaru dengan tajuk BWP #30 Kertas: Monumen, Hantu, dan Luka menghadirkan dialog antara dua praktik artistik yang berbeda namun saling beresonansi. Keduanya tidak hanya menawarkan kekaguman teknis, tetapi juga lapisan narasi tentang ingatan, trauma, dan struktur kekuasaan yang membentuk tubuh sosial Indonesia.

Karya karya Mujahidin Nurrahman mengolah pola geometris monumental terinspirasi Spomenik, monumen futuristik warisan rezim Sosialis Yugoslavia. Di balik keindahan strukturnya, bentuk bentuk itu mengingatkan penonton pada akumulasi kekerasan dan senjata sebagai fondasi banyak monumen politik dunia.

Motif arabesque yang ia gunakan sering menjadi selubung yang menyembunyikan formasi senjata perang. Ia mengajak penonton melihat bagaimana keagungan visual dapat menutupi jejak luka.

Kurator pameran, Enin Supriyanto, menilai karya karya dalam pameran ini menghadirkan gema kuat tentang hubungan antara monumen dan korban dalam sejarah. 


“Pameran ini menunjukkan bagaimana keindahan bentuk dapat menyembunyikan kekerasan yang terus menumpuk dan menuntut pengorbanan manusia,” ujarnya.

Kutipan ini mencerminkan gagasan yang sejalan dengan pemikiran Peter L. Berger tentang piramida kekuasaan dan tragedi yang menopangnya.

Sementara itu, karya karya Rudy Atjeh Dharmawan berangkat dari kenangan traumatis masa konflik bersenjata antara TNI dan GAM di Aceh pada awal dua ribu. Ia mengolah ketakutan masa kecilnya terhadap hantu yang hadir dalam situasi penuh kekerasan itu, dan menjadikan potongan potongan kertas halus sebagai rumah bagi sosok sosok tak kasatmata yang merepresentasikan trauma.

Rumbai kertas

Salah satu karyanya berbentuk rumbai rumbai kertas yang menyerupai ikan lohan. Ia bercerita bahwa pada masa itu hobi memelihara ikan lohan tengah berkembang bahkan di tengah daerah konflik. Setiap sore ia harus mencari udang hidup sebagai pakan, dan pada suatu ketika ia terjebak dalam kontak senjata dan penggeledahan pasukan bersenjata.

“Saya waktu itu hanya anak kecil yang sedang mencari udang di parit. Tiba tiba pasukan sweeping datang dan menodongkan senjata. Kalau salah bicara, mungkin saya tidak akan ada di sini hari ini,” bebernya.

Lewat kertas yang dipotong menjadi rumbai-rumbai halus, ia membangun ruang bagi sosok-sosok hantu: representasi rasa takut, gentar, dan trauma yang menetap dalam diri para korban. Hantu-hantu itu bersembunyi dalam tumpukan rumbai, sebagaimana ingatan kekerasan bersembunyi dalam kesadaran manusia.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved