Ada Kenaikan Harga Material Konstruksi, REI DIY Pilih Kurangi Margin 

Pelemahan rupiah berdampak pada kenaikan harga sejumlah material bangunan. Kenaikan sejumlah material konstruksi pun dialami pengembang

Tayang:
Tribunjogja/ Christi Mahatma Wardhani
HARGA MATERIAL NAIK - Ketua REI DIY, Ilham Muhammad Nur mengakui ada sejumlah material yang mengalami kenaikan, khususnya material pabrikan, seperti keramik, besi, saniter, alat penggantung,  pengunci, dan lain-lain. 
Ringkasan Berita:
  • Pelemahan rupiah berdampak pada kenaikan harga sejumlah material bangunan. 
  • Kenaikan sejumlah material konstruksi pun dialami oleh pengembang yang tergabung dalam Real Estate Indonesia (REI) DIY.
  • Menurut Ketua REI DIY, Ilham Muhammad Nur, ada sejumlah material yang mengalami kenaikan, khususnya material pabrikan, seperti keramik, besi, saniter, alat penggantung,  pengunci, dan lain-lain.

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pelemahan rupiah berdampak pada kenaikan harga sejumlah material bangunan. Kenaikan sejumlah material konstruksi pun dialami oleh pengembang yang tergabung dalam Real Estate Indonesia (REI) DIY.

Ketua REI DIY, Ilham Muhammad Nur mengakui ada sejumlah material yang mengalami kenaikan, khususnya material pabrikan, seperti keramik, besi, saniter, alat penggantung,  pengunci, dan lain-lain.

"Memang beberapa material pabrikan-pabrikan atau yang dari manufaktur, seperti keramik, besi, saniter, alat penggantung, pengunci, itu sudah mengalami kenaikan signifikan," katanya, Kamis (4/6/2026).

Kendati demikian, anggota REI DIY masih belum melakukan penyesuaian harga pada properti. Menurut Ilham, kondisi ekonomi saat ini sedang mengalami ketidakpastian. Untuk itu, penyesuaian dengan menaikkan harga dipandang tidak tepat.

Alih-alih menaikkan harga properti, REI DIY memilih untuk mengurangi margin.

"Sampai saat ini belum (melakukan penyesuaian harga). Karena dengan kondisi seperti ini kalau menaikkan harga juga tidak tepat. Jadi memang kita mengurangi margin," terangnya.

Ia masih optimis penjualan properti masih akan baik. Pasalnya properti dianggap sebagai salah satu instrumen investasi yang relatif aman dibandingkan saham, obligasi, maupun valuta asing.

"Jadi properti itu tidak seperti consumer goods. Meski di triwulan I ini agak lambat, tetapi belum tentu di triwulan selanjutnya lambat juga. Properti masih bisa menajdi pilihan properti, saham berisiko, valas juga risikonya lebih tinggi," ujarnya.

Ilham tidak tahu persis sampai kapan para pengembang menahan kenaikan harga properti. Pasalnya kondisi geopolitik termasuk kenaikan harga minyak dunia memengaruhi kondisi pasar. 

"Ya masih melihat kondisi ke depan seperti apa, karena kondisi global seperti ini, penuh ketidakpastian. Barang itu kalau sudah naik, biasanya tidak mau turun. Walaupun harga minyak turun sekalipun, (harga) barangnya tidak mau turun lagi," pungkasnya. 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved