Cara Baru Tahu Sejarah Indonesia, Baca 5 Novel Historical Fiction Ini
Ingin lebih kenal dengan sejarah & budaya Indonesia ? 5 novel historical fiction ini tawarkan cerita inspiratif, hangat, dan penuh makna perjuangan.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM- Setiap bulan Agustus, kita diingatkan pada beratnya perjuangan para pahlawan dalam merebut kedaulatan dari penjajah.
Namun, mengenang perjuangan kemerdekaan tidak selalu harus dengan cara yang kaku.
Ada cara lain yang lebih menyenangkan, yakni dengan membaca novel historical fiction.
Novel bergenre ini memadukan kisah nyata sejarah dengan alur fiksi, sehingga pembaca bisa merasakan langsung suasana zaman dulu, lengkap dengan konflik batin tokoh-tokohnya.
Berikut beberapa rekomendasi novel historical fiction yang dapat Anda baca untuk menyelami semangat perjuangan di momen kemerdekaan.
1. Burung-Burung Manyar – Y.B. Mangunwijaya
Novel klasik karya Romo Mangun ini terbit pada tahun 1980-an dan masih relevan hingga kini.
Ceritanya berfokus pada konflik batin seorang tokoh bernama Teto, keturunan Indonesia yang justru berpihak kepada Belanda.
Ia tumbuh dengan kebencian terhadap Indonesia karena trauma masa lalu.
Namun di sisi lain, ada Larasati atau Atik, sahabat sekaligus cinta masa kecil Teto, yang justru mendukung penuh perjuangan kemerdekaan.
Persimpangan ideologi ini menjadikan hubungan mereka penuh luka dan jarak.
Melalui novel ini, pembaca mendapat sudut pandang baru bagaimana rasanya berada di pihak yang menolak republik.
Ini berbeda dari kebanyakan kisah sejarah yang biasanya hanya menampilkan sisi pahlawan bangsa.
2. Tetralogi Buru – Pramoedya Ananta Toer
Bagi pecinta sastra Indonesia, karya Pramoedya Ananta Toer adalah bacaan wajib.
Empat novel yang tergabung dalam Tetralogi Buru yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca merupakan kisah epik tentang lahirnya nasionalisme di awal abad ke-20.
Tokoh utamanya tidak lain adalah Minke, seorang pemuda Jawa priyayi yang bersekolah di HBS Surabaya.
Ia digambarkan sebagai Tirto Adhi Soerjo, tokoh nyata yang dikenal sebagai perintis pers di Indonesia.
Lewat perjalanan hidup Minke, kita bisa melihat bagaimana ide-ide kebebasan dan perlawanan terhadap kolonialisme mulai tumbuh di kalangan anak bangsa.
Menariknya, novel ini lahir saat Pramoedya menjadi tahanan politik di Pulau Buru maka dari itu tetralogi ini dikenal dengan tetralogi buru.
Baca juga: Merayakan Hari Kemerdekaan Sendiri? Coba 6 Cara Seru Ini
3. Segala yang Diisap Langit – Pinto Anugerah
Novel satu ini mengambil latar Perang Padri di Minangkabau pada abad ke-19.
Namun alih-alih berfokus pada tokoh besar seperti Tuanku Imam Bonjol, penulis menghadirkan kisah dari sudut pandang keluarga bangsawan yang terjebak di tengah konflik.
Tokoh utamanya adalah Rabiah, seorang perempuan bangsawan Minangkabau dengan ambisi besar.
Perjuangannya menghadapi kakak sekaligus perubahan zaman membuat kisah ini terasa penuh emosi dan kritik sosial.
Pinto Anugerah berhasil menulis kisah ini dengan detail budaya yang kaya.
Dari novel ini, pembaca tidak hanya diajak menyelami sejarah perang, tetapi juga memahami adat dan pergeseran nilai di masyarakat Minang.
4. Pulang – Leila S. Chudori
Berbeda dari tiga novel sebelumnya, Pulang membawa pembaca pada sejarah yang lebih dekat dengan tragedi G30S 1965, Revolusi Prancis 1968, hingga reformasi 1998.
Tokoh utamanya, Dimas Suryo, seorang jurnalis yang terjebak di luar negeri setelah dituduh terlibat dengan “golongan kiri”.
Ia menetap di Paris, membangun keluarga, tapi hatinya tetap merindukan tanah air.
Keinginannya sederhana, bisa pulang dan mengakhiri hidup di Indonesia.
Leila S. Chudori berhasil menghadirkan kisah yang puitis namun membumi.
Konflik politik yang rumit disampaikan dengan gaya yang ringan, disertai drama keluarga, cinta, dan persahabatan.
5. Romansa Stovia - Sania Rasyid
Romansa Stovia karya Sania Rasyid (2024) bercerita tentang Yansen, pemuda keturunan Belanda–Minahasa yang merantau ke Batavia untuk belajar di STOVIA.
Di sana ia bersahabat dengan Hilman, Sudiro, dan Arsan, empat pemuda dari latar belakang berbeda yang sama-sama berjuang menghadapi diskriminasi, perpeloncoan, dan kerasnya pendidikan di masa kolonial.
Novel ini juga menggambarkan tradisi Indonesia, seperti salawat Ramadan, adat perjodohan, hingga dinamika sosial di Hindia Belanda.
Bahasanya sederhana dengan catatan kaki untuk istilah asing, sehingga tetap mudah dipahami.
Meski konflik tidak terlalu dalam, novel ini menarik karena menggabungkan persahabatan, cinta, pendidikan, serta semangat perjuangan pemuda.
Mengapa Cocok Dibaca di Momen Kemerdekaan?
Keempat novel historical fiction di atas sama-sama menyajikan kisah perjuangan bangsa dengan cara yang berbeda.
Ada yang menyorot konflik batin individu, ada yang menyingkap lahirnya nasionalisme, hingga ada yang memperlihatkan bagaimana sejarah meninggalkan luka panjang bagi generasi penerus.
Momen kemerdekaan adalah waktu yang tepat untuk membaca karya-karya ini.
Selain mengingatkan kita pada arti kebebasan, novel-novel tersebut juga menumbuhkan empati.
Perjuangan tidak selalu hitam-putih, dan bahwa kemerdekaan hadir dengan harga yang sangat mahal.
(MG/Sabbih Fadhillah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ILUSTRASI-FOTO-membaca-buku-gemar-membaca.jpg)