Akadama & The Yoyo Connection Rilis 'Luka' dan 'Kampung' sebagai Gerbang Menuju Mini Album

Kedua lagu ini menjadi pengantar menuju mini album perdana mereka bertajuk Rapakadabra, yang dijadwalkan rilis pada September mendatang.

Tayang:
Penulis: Santo Ari | Editor: Yoseph Hary W
Istimewa
Personel Akadama & The Yoyo Connection 

TRIBUNJOGJA.COM - Grup rap asal Yogyakarta, Akadama & The Yoyo Connection, kembali menyapa para pendengar dengan merilis dua single terbaru berjudul “Luka” dan “Kampung” pada 30 Juli 2025 di berbagai platform digital.

Kedua lagu ini menjadi pengantar menuju mini album perdana mereka bertajuk Rapakadabra, yang dijadwalkan rilis pada September mendatang.

“Mini album kami nanti akan dirilis dalam bentuk buku mini. Judulnya kami ambil dari gabungan dua kata yang kami tekuk: rap dan abrakadabra.” ujar Desta Wasesa, vokalis dan inisiator band ini. 

Tak sekadar judul, Rapakadabra menjadi simbol transformasi musikal Akadama & The Yoyo Connection setelah sebelumnya menelurkan dua trilogi bertema.

Trilogi pertama berjudul Siksamantan memuat lagu-lagu seperti “Patah Hati Itu Afu”, “Putar Balik (Farida)”, dan “Salah Move On” (feat. Jewawut). Trilogi kedua, Menolak Lupa, meliputi “Pterodactyl”, “Alerta”, dan “Orbamecium Rhizopora”.

Dibanding karya sebelumnya, dua lagu baru ini terdengar lebih lembut dan analog. 

“'Kampung' dan 'Luka' memang lebih mellow dibanding rilisan kami sebelumnya. Lagu-lagu lain di Rapakadabra juga bernuansa serupa,” tambah Catur Kurniawan, yang mengisi bass dan vokal. 

Keduanya ditulis oleh Desta, dan banyak terinspirasi dari gagasan-gagasan Romo Mangun dalam buku Generasi Pasca-Indonesia, juga dari novel-novel seperti Burung-Burung Manyar dan Burung-Burung Rantau.

Lagu-lagu tersebut berbicara tentang relasi antara kota dan desa yang semestinya tidak hanya menghidupi yang hidup, tetapi juga memberi ruang bagi yang telah tiada.

Secara musikal, “Luka” menawarkan nuansa muram yang kontras dengan “Kampung” yang terasa lebih terang dan reflektif.

Dalam penggarapannya, mereka menggandeng berbagai kolaborator lintas disiplin. Paulus Neo (Majelis Lidah Berduri, The Dangerous Band) turut mengisi piano dalam “Luka”, sementara Jeconiah Sajuto (Gremory X, Saint Jimmy) menambahkan lapisan string dalam “Kampung”.

Dua vokalis dari paduan suara UKSW Salatiga, Agriani Novita dan Petrina M.N.S Manurung, juga ikut memperkaya vokal di lagu tersebut.

Rekaman dilakukan di dua studio berbeda. “Luka” direkam di Niskala Records bersama Damar Puspito, lalu proses mixing dan mastering ditangani oleh Catur sendiri. “Kampung” direkam di Gosnell Audio dengan asistensi Garry Mailangkay, yang juga menggarap penataan dan penyempurnaan suara lagu tersebut.

Untuk distribusi digital, keduanya disebarkan lewat Jonotify, agregator musik independen buatan Jono Terbakar.

Unsur visual pun tak luput dari perhatian. Artwork lagu “Luka” merupakan hasil kolaborasi dengan fotografer Fyzagon, yang dikenal lewat dokumentasi demonstrasi #Indonesiagelap pada Februari 2025. Sementara “Kampung” menampilkan karya ilustrator sekaligus desainer grafis Nai Rinaket, sosok yang cukup dikenal di dunia perbukuan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved