Peringatan Hari Anak Nasional 2025, Forankla Serukan Pemenuhan Hak-hak Anak

Pada momen peringatan Hari Anak Nasional 2025 itu, Forankla Klaten berharap agar anak-anak di Kabupaten Klaten bisa memenuhi hak-hak mereka

Penulis: Dewi Rukmini | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/ Dewi Rukmini
PERMAINAN TRADISIONAL - Sejumlah anak-anak SD tampak asik bermain congklak dan ular tangga dadu di halaman Pendopo Klaten pada puncak peringatan Hari Anak Nasional 2025, Kamis (31/7/2025). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Dewi Rukmini

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten menggelar sejumlah kegiatan pada puncak peringatan Hari Anak Nasional 2025, Kamis (31/7/2025).

Kegiatan yang dilaksanakan antara lain permainan tradisional dan penyerahan penghargaan layak anak tingkat desa, kecamatan, hingga OPD di halaman serta Pendopo Pemkab Klaten

Kegiatan itu dihadiri ratusan anak-anak jenjang pendidikan SD dari sejumlah sekolah yang ada di Bumi Bersinar. Termasuk sejumlah siswa pelajar yang tergabung dalam Forum Anak Klaten (Forankla). 

Pada momen peringatan Hari Anak Nasional 2025 itu, Forankla Klaten berharap agar anak-anak di Kabupaten Klaten bisa memenuhi hak-hak mereka. Antara lain mulai dari hak hidup, tumbuh kembang, partisipasi, dan perlindungan. 

"Selain itu fasilitas-fasilitas seperti bus pengantar anak sekolah bisa segera direalisasikan. Karena dengan begitu bakal meminimalisir anak-anak yang naik sepeda motor sendiri. Jadi kecelakaan lalu lintas akibat anak-anak yang belum punya SIM dan sebagainya bisa terminimalisir," ucap perwakilan Forum Anak Klaten, Nabila (18), kepada Tribun Jogja, Kamis (31/7/2025). 

Dia tak menampik bahwa saat ini ada beberapa sekolah yang sudah menfasilitasi transportasi sekolah. Namun hal itu belum merata ke seluruh sekolah yang ada di Kabupaten Klaten. Pihaknya pun bermimpi ke depan ada bus antar jemput sekolah gratis bagi para pelajar. 

Di sisi lain, Nabila juga berharap perpustakaan daerah Kabupaten Klaten bisa diupdate dengan fasilitas yang lebih kekinian. Tak hanya dalam hal koleksi buku, fasilitas ruangan, dan bangunan yang ada di perpustakaan daerah bisa diunggah lebih baik atau modern.

"Jadi tempat-tempatnya itu tidak monoton. Dibuat kayak ada space-space khusus antara belajar dan membaca itu dipisah atau disendirikan, serta lebih kekinian," papar dia.

Menurut Nabila, masalah anak-anak saat ini cukup kompleks. Tak hanya disebabkan individunya, masalah yang dihadapi anak-anak juga bisa dipengaruhi faktor pergaulan sosial. Sehingga ia tak menampik banyak anak-anak yang terlibat aktivitas geng-gengan yang cenderung memberikan dampak negatif. 

"Faktor penyebabnya banyak, menurut saya kalau bukan dari individunya bisa dari keluarga. Makanya harus ada sosialisasi dan pendekatan antata orang tua dan anak, karena mungkin bisa jadi kurangnya kasih sayang serta perhatian dari orang tua," jelasnya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dissos P3APPKB) Kabupaten Klaten, Puspo Enggar Hastuti, mengatakan terus berupaya melakukan pencegahan kenakalan anak dan remaja di Kabupaten Klaten. Satu cara yakni dengan menggandeng organisasi wanita semisal PKK, Persit, Bhayangkari, Dharma Wanuta, hingga Gatriwara untuk menyosialisasikan kesadaran terkait pencegahan kenakalan remaja. 

"Harapannya organisasi-organisasi wanita yang selama ini selalu kami ajak berkegiatan langsung dengan anak-anak bisa mencegah kekerasan terhadap anak. Jadi kami kembalikan pemenuhan hak anak dalam keluarga,"  tandasnya. (drm)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved