Rupiah Menguat ke Rp16.437 per Dolar AS, Sentimen Positif dari Meredanya Ketegangan Dagang

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot tercatat berada di posisi Rp16.437 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 139 poin atau setara 0,84

Dok. Istimewa
Rupiah Menguat ke Rp16.437 per Dolar AS, Sentimen Positif dari Meredanya Ketegangan Dagang 

TRIBUNJOGJA.COM - Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada akhir perdagangan Jumat (2/5/2025). 

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot tercatat berada di posisi Rp16.437 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 139 poin atau setara 0,84 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia mencatat rupiah berada di level Rp16.493 per dolar AS. 

Angka ini menunjukkan penguatan jika dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan Rabu (30/4/2025) yang berada di level Rp16.679 per dolar AS.

Penguatan rupiah ini sejalan dengan tren positif mata uang utama di kawasan Asia. 

Yen Jepang tercatat menguat 0,21 persen, won Korea Selatan 1,70 persen, peso Filipina 0,45 persen, rupee India 0,40 persen, ringgit Malaysia 0,88 persen, dan baht Thailand 1,13 persen. 

Sementara itu, penguatan tipis juga terjadi pada dolar Hong Kong 0,01 persen, dolar Singapura 0,69 persen, serta dolar Taiwan dengan penguatan signifikan sebesar 4,15 persen.

ILUSTRASI DOLLAR: Rupiah Tertekan, Nyaris Tembus 17.000 per Dolar AS
ILUSTRASI DOLLAR: Rupiah Tertekan, Nyaris Tembus 17.000 per Dolar AS (Tribunjogja.com / Ardhike Indah)

Menurut pengamat komoditas dan mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, penguatan ini didorong oleh meredanya ketegangan dalam hubungan dagang antara sejumlah negara. 

“Rupiah dan mata uang regional menguat tajam merespon positif pernyataan dari China yang bersedia membuka dialog tarif dengan AS,” ujar Lukman kepada Kompas.com, Jumat (2/5/2025).

Optimisme pasar menguat usai Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal kemungkinan tercapainya kesepakatan dagang dengan India, Jepang, Korea Selatan, dan terutama China. 

Pernyataan ini dinilai menjadi angin segar bagi pasar finansial global, termasuk Indonesia.

Dari dalam negeri, sentimen positif juga datang dari data inflasi. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi April 2025 mencapai 1,95 persen secara tahunan (year-on-year), lebih tinggi dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 1,03 persen. Lukman menilai hal ini menjadi indikasi membaiknya aktivitas ekonomi nasional.

“Dari internal, data yang menunjukkan inflasi bulan April yang naik lebih tinggi dari harapan, (menunjukkan) membaiknya permintaan,” imbuhnya.

Kondisi ini memberikan sinyal positif bagi pelaku pasar, yang merespons dengan meningkatkan permintaan terhadap aset berdenominasi rupiah.

( Tribunjogja.com / Kompas.com )

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved