Puisi

10 Puisi Religi karya Emha Ainun Najib 

Puisi-puisi religinya seringkali mengandung refleksi spiritual yang mendalam, disampaikan dengan bahasa yang sederhana namun penuh makna.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
DOK. Instagram Cak Nun
Biodata Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun 

TRIBUNJOGJA.COM - Emha Ainun Nadjib, lebih dikenal sebagai Cak Nun, adalah seorang tokoh intelektual Muslim Indonesia yang sangat dihormati.

Puisi-puisi religinya seringkali mengandung refleksi spiritual yang mendalam, disampaikan dengan bahasa yang sederhana namun penuh makna.

Gaya bahasanya khas, menggunakan kata-kata yang mudah dipahami, seringkali dengan sentuhan humor dan ironi.

Salah satu keunikan puisi religi Cak Nun adalah kemampuannya untuk menggabungkan unsur-unsur keagamaan dengan kehidupan sehari-hari.

Berikut puisi-puisi religi karya Cak Nun: 


1. Tahajjud Cintaku 


Mahaanggun Tuhan yang menciptakan hanya kebaikan
Mahaagung ia yang mustahil menganugerahkan keburukan
Apakah yang menyelubungi kehidupan ini selain cahaya
Kegelapan hanyalah ketika taburan cahaya takditerima
Kecuali kesucian tidaklah Tuhan berikan kepada kita
Kotoran adalah kesucian yang hakikatnya tak dipelihara
Katakan kepadaku adakah neraka itu kufur dan durhaka
Sedang bagi keadilan hukum ia menyediakan dirinya
Ke mana pun memandang yang tampak ialah kebenaran
Kebatilan hanyalah kebenaran yang tak diberi ruang

Mahaanggun Tuhan yang menciptakan hanya kebaikan
Suapi ia makanan agar tak lapar dan berwajah keburukan
Tuhan kekasihku tak mengajari apa pun kecuali cinta
Kebencian tak ada kecuali cinta kau lukai hatinya


2. Seribu Masjid Satu Jumlahnya 

Satu
Masjid itu dua macamnya
Satu ruh, lainnya badan
Satu di atas tanah berdiri
Lainnya bersemayam di hati
Tak boleh hilang salah satunyaa
Kalau ruh ditindas, masjid hanya batu
Kalau badan tak didirikan, masjid hanya hantu
Masing-masing kepada Tuhan tak bisa bertamu

 

Dua
Masjid selalu dua macamnya
Satu terbuat dari bata dan logam
Lainnya tak terperi
Karena sejati

 

Tiga
Masjid batu bata
Berdiri di mana-mana
Masjid sejati tak menentu tempat tinggalnya
Timbul tenggelam antara ada dan tiada
Mungkin di hati kita
Di dalam jiwa, di pusat sukma
Membisikkannama Allah ta'ala
Kita diajari mengenali-Nya
Di dalam masjid batu bata
Kita melangkah, kemudian bersujud
Perlahan-lahan memasuki masjid sunyi jiwa
Beriktikaf, di jagat tanpa bentuk tanpa warna

 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved