Mengenal Larangan-larangan dalam Shalat Jumat
Artikel berikut membahas mengenai larangan-larangan dalam Shalat Jumat.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNJOGJA.COM – Shalat Jumat memiliki keutamaan yang luar biasa dalam Islam, namun terdapat hal-hal yang harus diperhatikan oleh jamaah maupun khatib agar ibadah dapat berjalan sesuai syariat.
Baca juga: 10 Doa Pilihan untuk Segala Keadaan: Kumpulan Doa Mujarab dari Alquran
Mengetahui dan menghindari larangan ini penting untuk menjaga kesempurnaan ibadah Shalat Jumat, berikut pembahasannya:
1. Memanjangkan khotbah dan Shalat
Berkenaan dengan memanjangkan khotbah, tentu saja larangannya sudah jelas.
Nabi Muhammad bersabda, “Sesungguhnya panjangnya shalat dan singkatnya khotbah seseorang itu menunjukan tanda kecakapan pemahaman orang tersebut. Oleh karena itu panjangkanlah shalat dan singkatkanlah khotbah."
2. Khatib mengangkat kedua tangan ketika berdoa
Pada Sunah Nabi Muhammad dan para sahabatnya yang mulia, tidak didapatkan bahwa jika salah seorang dari mereka berkhotbah, maka ia akan mengangkat kedua tangannya ketika ia berdoa dari atas mimbar, oleh karena itu, para ulama menganggap hal tersebut bid’ah.
3. Membuat perkumpulan di Masjid sebelum shalat
Diriwayatkan dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya, dari kakeknya, bahwa Nabi Muhammad melarang membuat halaqah pada hari Jumat sebelum shalat dilaksanakan.
Hal senada juga dikatakan oleh As-Suyuthi, menghukuminya makruh ialah lebih baik, karena dengan membuat halaqah akan ada asumsi yang menggangu dan membuat lalai manusia, serta terputusnya barisan, Wallahu a’lam.
4. Sembarangan dalam memuji pemimpin yang lalim dan kafir
Di antara kesalahan paling fatal dalam berkhotbah yaitu sang khatib memuji seorang pemimpin yang lalim atau murtad, dan menyifatinya sebagai pemimpin yang berlaku adil.
Bahkan sampai ia mendoakan agar orang yang tidak mematuhinya dibinasakan dan seterusnya yang berhubungan dengan sanjungan dan pujian demi tujuan duniawi yang tidak berkekalan.
Mazhab Hanafi dan kebanyakan ulama mazhab Maliki berpendapat, “Yang demikian itu termasuk perkara yang dibuat-buat dan makruh.”
Di dalam Al- Bahrur- Ra’iq, Ibnu Najim Al-Hanafi mengatakan, “Adapun mengenai berdoa untuk sang pemimpin dalam khotbah, ia tidaklah disunnahkan." Sebab, diriwayatkan, suatu ketika Atha’ ditanya mengenai hal tersebut, maka ia menjawab, “Itu termasuk perkara dibuat-buat, sesungguhnya khotbah itu berisikan nasihat dan pelajaran."
Namun, jika sang khotib mendoakan mereka pada waktu-waktu selain khotbah, maka boleh saja dengan syarat yaitu tidak menyebutkan mereka dengan sesuatu yang memang tidak ada dalam diri mereka.
5. Mengeraskan suara saat berdoa dan mengamininya saat berkhotbah
Masalah ini menjadi satu perkara bid’ah yang sudah menyebar di sebagian negara umat islam, yakni muazin atau beberapa temannya mengerasakan suara di antara dua khotbah dengan diiringi dendang, disertai anggapan dengan melakukan hal tersebut, ia telah melakukan hal yang paling baik.
Di dalam Asy- Syarh Ash Shaghir, Ad-Dardir mengatakan, “Di antara bid’ah terlarang yang menimpa kumpulan orang-orang yang berlebihan dalam hal ini di berbagai kota ialah, adanya teriakan yang mirip dengan bernyanyi dan berdendang. Namun, tak seorang ulama pun mengingkarinya."
Diantara bid’ah lainnya yang tercela ialah, manakala sang khotib yang bodoh berkata pada akhir khotbah pertama berdoalah kepada Allah, sedangkan kalian yakin Allah akan mengabulkannya.
Kemudian ia duduk dan mendengar pekikan suara yang merintih dan keras dari jamaah yang duduk, dimana mereka terus berteriak, hingga sang khotib hampir selesai dari khotbah keduanya.
Selain itu, termasuk berlebihan pula, jika ada sekelompok orang yang mengerasakan suara ketika mengatakan “Amin, amin, amin, yan mujibas sa’ilin, hingga akhir pembiacaraan yang cukup panjang.
6. Melangkahi pundak jamaah
Di dalam Islam, terdapat larangan menyakiti dan menganggu orang-orang yang shalat dengan melangkahi leher atau barisan mereka.
Hal ini dinyatakan dalam hadits Abdullah bin Basar, ia berkata, “Pada suatu Jumat, seorang laki-laki datang dan melangkahi leher jamaah jumat, sementara Nabi Muhammad sedang berkhotbah."
Lantas Rasulllah bersabda, “Duduklah, sungguh kamu telah menyakiti dan menganggu.”
7. Al-Ijtiba’ (Duduk dengan merapatkan kedua kaki ke perut) saat imam khotbah
Al-Ij’tiba ialam kondisi seseorang yang melipat kedua kakinya ke perut dengan baju, dimana ia menyatukan dengan baju itu bersama punggungnya, lalu merapatkannya ke perut.
Terkadang, ia juga melakukan dengan kedua tangan sebagai ganti baju.
8. Libur pada Hari Jumat sebagai bentuk penghormatan
Hal ini termasuk perbuatan yang salah karena mengikuti metode orang-orang kafir yang menjadikan hari-hari besar kelahiran para nabi dan orang-orang salihnya sebagai hari libur dan tidak bekerja pada hari ini.
Selain itu sebagian orang menganggap hal ini merupakan arahan yang sangat islami dari sang pemimpin atau presiden.
Hal ini merupakan kesalahan dan kesilapan berat, karena Nbi Muhammad bersabda, “Kelak kalian akan mengikuti cara dan perbuatan orang-orang sebelum kamu, setapak demi setapak, sehasta demi sehasta. Hingga kalau pun masuk dalam sarang biawak, niscaya kalian juga akan memasukinya,”
Lantas para sahabat bertanya,”wahai Rasulullah, apakah mereka itu ialah orang-orang Yahudi dan Nasrani.
Kemudian beliau menjawab” Lantas siapa lagi?”
Baca juga: Doa Agar Dijauhkan dari Fitnah, Selalu Diberi Keselamatan dan Kemuliaan, Semoga Semua Sehat Amin
(MG Alya Hasna Khoirunnisa)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Shalat-Gerhana.jpg)