Rangkuman Materi Sejarah Kelas 12 SMA Bab 2 Unit C: Ancaman Disintegrasi

Rangkuman materi Sejarah Kurikulum Merdeka Kelas 12 SMA Bab 2 Unit C mengenai Ketidakseimbangan Relasi Pusat dan Daerah serta Ancaman Disintegrasi.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Buku Sejarah Kurikulum Merdeka Kelas 12 SMA
Buku Sejarah Kelas 12 SMA 

TRIBUNJOGJA.COM – Sering kali konflik-konflik terjadi karena ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah pusat atau ketidakadilan dalam pembagian sumber daya. 

Sehingga hal ini dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

Kali ini kita akan belajar materi Sejarah kelas 12 SMA Kurikulum Merdeka Bab 2 tentang Demokrasi Liberal hingga Masa Demokrasi Terpimpin (1950 – 1966) terkhusus Ketidakseimbangan Relasi Pusat dan Daerah serta Ancaman Disintegrasi.

Materi ini dilansir dari buku Sejarah karya Martina Safitry, Indah Wahyu Puji Utami, dan Aan Ratmanto. 

Pada materi kali ini, siswa diharapkan mampu menggunakan keterampilan sejarah untuk mengevaluasi secara kritis dinamika kehidupan bangsa Indonesia pada masa Demokrasi Liberal hingga Demokrasi Terpimpin dari berbagai perspektif, merefleksikannya untuk kehidupan masa kini dan masa depan, serta melaporkannya dalam bentuk lisan, tulisan, dan/atau media lainnya.

Buku Sejarah Kelas 12 SMA
Buku Sejarah Kelas 12 SMA (Buku Sejarah Kurikulum Merdeka Kelas 12 SMA)

Berikut di bawah ini rangkuman materi Sejarah Kurikulum Merdeka Kelas 12 SMA Bab 2 Unit C

Ketidakseimbangan Relasi Pusat dan Daerah serta Ancaman Disintegrasi

1. Daarul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII)

Gerakan DI/TII bermula dari ketidakpuasan Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo dengan hasil Perjanjian Renville. 

Kartosuwiryo merupakan pemimpin Sabilillah dan Hizbullah yang membantu Indonesia dalam perang mempertahankan kemerdekaan. 

Ia berpendapat, perjanjian yang dilaksanakan pada 8 Desember 1947 hingga 17 Januari 1948 itu merugikan Indonesia karena harus mengakui kekuasaan Belanda atas Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Sumatra yang sebenarnya adalah wilayah Negara Republik Indonesia. 

Saat Belanda melancarkan Agresi Militer II pada Desember 1948, S.M. Kartosuwiryo mengira bahwa RI sudah hancur dan gagal mempertahankan kemerdekaan. 

Ia kemudian memanfaatkan situasi pasca-Agresi Militer II dengan menginisiasi DI/TII sambil terus melakukan perlawanan terhadap Belanda. 

Aksi pemberontakan DI/TII ini merugikan pihak RI yang saat itu juga berjuang menghadapi Belanda. 

Gerakan ini juga bertahan cukup lama bahkan hingga masa Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved