Berita Sleman Hari Ini
Musim Hujan, Warga Sleman Diimbau Waspadai Penyakit Leptospirosis
Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman hingga November ini mencatat terdapat 24 kasus leptospirosis.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN-- Musim hujan yang seringkali disertai banjir maupun genangan dapat membawa risiko kesehatan yang perlu diwaspadai, satu di antaranya adalah penyakit leptospirosis. Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mengimbau warga mewaspadai penyakit yang disebabkan air kecing tikus mengandung bakteri leptospirosa itu.
"Kita tidak tahu genangan air yang ada terpapar kencing tikus atau tidak, sehingga kewaspadaan harus terus ditingkatkan supaya tidak terkena leptospirosis. Rutin cuci tangan dan kaki serta seluruh bagian tubuh yang kontak dengan sabun sebagai upaya pencegahan," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr. Khamidah Yuliati," Selasa (12/11/2024).
Sejauh ini angka kasus leptospirosis di Kabupaten Sleman tidak setinggi tahun lalu. Namun kewaspadaan tetap diperlukan. Mengingat, leptospirosis termasuk penyakit musiman yang jika memasuki musim penghujan ada potensi mengalami kenaikan kasus. Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman hingga November ini mencatat terdapat 24 kasus leptospirosis. Empat orang di antaranya meninggal dunia. Adapun di tahun lalu, hingga Desember ada temuan 60 kasus dan enam orang meninggal dunia.
"Mudah-mudahan penyebaran leptospirosis bisa terus terkendali dan kasus maupun kematian karena penyakit ini tidak bertambah," harapnya.
Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis akut akibat bakteri leptospira yang menyebar melalui urine atau darah hewan terinfeksi. Hewan perantara penyebaran bakteri tersebut di antaranya adalah tikus. Penyakit leptospirosis dapat menyebar melalui air dan tanah yang terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri leptospira.
Kepala Dinas Kesehatan Sleman, dr. Cahya Purnama sebelumnya mengingatkan agar masyarakat mewaspadai penyakit ini dengan langkah pencegahan. Antara lain dengan menerapkan perilaku hidup sehat, dan menjaga kebersihan lingkungan. Kemudian menggunakan alat pelindung diri (APD) jika kontak dengan lingkungan yang beresiko leptospirosis seperti genangan air ataupun tumpukan sampah.
Bagi masyarakat petani, Dinas Kesehatan Sleman, kata dia, melalui Puskemas telah bekerjasama dengan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan agar petugas Penyuluhan Pertanian Lapangan (PPL) turut andil mensosialisasikan tentang Leptospirosis. Menurutnya, untuk mengendalikan tikus di sawah, masyarakat bisa menggunakan burung Tito Alba, ular atau menggunakan trapping atau perangkap.
"Kalau di rumah, untuk menghindari penyakit Leptospirosis ini dengan menutup makanan dan menutup tempat sampah, agar tidak berserakan yang mengundang hewan pembawa bakteri leptospira," jelas dia.( Tribunjogja.com )
| Hujan Deras Picu Banjir di Trihanggo, 5 Rumah Warga Terdampak Akibat Gorong-gorong Mampet |
|
|---|
| Puting Beliung Melanda Condongcatur Sleman, Sejumlah Rumah Warga Rusak |
|
|---|
| Keterangan Polisi soal Kecelakaan Beruntun di Sleman Hari Ini, Kerugian Ditaksir Rp 155 Juta |
|
|---|
| CERITA Fajarwati yang Kelak Tidak Akan Tidur di Bekas Kandang Sapi Lagi |
|
|---|
| Sambut Natal, 20 Gereja di Sleman Jadi Prioritas Pengamanan Polisi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/mengenal-leptospirosis.jpg)