Jelang Diresmikan Presiden Jokowi, Talud di Kampung Seni Borobudur Jebol Imbas Hujan Deras

Kepala Dusun Kujon, Heri Agus Setiawan mengungkapkan, saluran yang baru selesai dibangun dua hari itu jebol setelah hujan deras selama 2 jam

Tribun Jogja/ Yuwantoro Winduajie
Kondisi talud di Kampung Seni Borobudur yang jebol, Kamis (26/9/2024) 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Talud yang difungsikan untuk saluran pembuangan air di kawasan Museum dan Kampung Seni Borobudur, Magelang, Jawa Tengah mengalami kerusakan parah setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut pada Rabu (26/9/2024).

Dinding talud sepanjang 30 meter dan setinggi 80 centimeter dilaporkan runtuh total, mengancam area sekitar menjelang peresmian oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang dijadwalkan pada pekan pertama Oktober 2024.

Kepala Dusun Kujon, Heri Agus Setiawan mengungkapkan, saluran yang baru selesai dibangun dua hari itu jebol setelah hujan deras selama kurang lebih dua jam. 

Talud diduga tak kuat menahan debit air yang terlampau tinggi. 

"Kemarin sore itu hujan deras dan mungkin karena itu bangunan baru dan airnya memang cukup besar yang dari pembuangan kampung seni ya akhirnya kemarin sore itu jebol," ujar Heri, Kamis (26/9/2024).

Menurut Heri, saluran pembuangan air dibangun atas permintaan warga karena dalam desain awal pembangunan, tidak disertai infrastruktur tersebut. 

"Kalau dari kampung seni memang hanya satu titik itu dan itu memang kemarin sejak awal tidak ada gambar sama sekali dan memang kemarin kita meminta dari pihak proyek untuk membuatkan saluran itu," ujarnya. 

Dia pun meminta agar perbaikan dapat segera dilakukan. 

Baca juga: MAJT An Nuur Magelang Telan Anggaran Rp125,7 Miliar, 87 Pengelola Masjid Resmi Dikukuhan

Heri khawatir jika hujan deras akan menimbulkan banjir di lahan pertanian warga serta sekolah di sekitar lokasi tersebut. 

"Saya tetap komunikasi dengan pihak proyek, minta pertanggung jawaban kaitan dengan itu, minta kalau bisa ya dimaksimalkan untuk pembuatannya," katanya.

Sementara Site Operation Manager PT Brantas Abhipraya, Setiawan Priyono menjelaskan, saluran tersebut telah dibangun sesuai dengan desain. 

Namun, permintaan warga untuk menambah saluran pengarah ke arah sungai menjadi pekerjaan di luar kontrak. 

"Kami sudah bersurat (ke Kementerian PUPR) terkait perlunya dinding penahan tanah untuk mengantisipasi potensi bahaya," katanya.

Sebagai langkah perbaikan, pihak proyek akan mengganti saluran yang rusak dengan material yang lebih kuat.

Bangunan dulunya yang menggunakan batu dari sungai akan diganti dengan betom U-ditch.

Selain itu, Setiawan menambahkan bahwa beberapa titik di kawasan tersebut perlu ditambah kanopi untuk mengurangi dampak bocor saat hujan.

"Saya targetkan dua hari itu sudah selesai perbaikannya," ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved