Ramadan 2024

Mutiara Ramadan: Mudik Lebaran

Kita semua meyakini bahwa mudik Lebaran itu mengasyikkan. Banyak penjelasan mengapa orang ramai-ramai pulang mudik untuk ber-Lebaran di kampung.

|
Editor: ribut raharjo
Istimewa
Sri Nurul SE MM, Pranata Humas Ahli Madya Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY 

Oleh: Sri Nurul SE MM, Pranata Humas Ahli Madya Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY

TRIBUNJOGJA.COM - Lebaran kali ini kami sekeluarga mudik ke kampung halaman kota kelahiran yakni di Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Kita semua meyakini bahwa mudik Lebaran itu mengasyikkan. Banyak penjelasan mengapa orang ramai-ramai pulang mudik untuk ber-Lebaran di kampung halaman.

Di antaranya berkumpul keluarga di hari yang istimewa itu. Terlebih bagi mereka yang masih punya orang tua, kerinduan untuk bertemu menjadi dorongan utama.

Cendekiawan muslim, Komaruddin Hidayat, pernah menulis, mudik merupakan nostalgia napak tilas masa kecil-remaja di kampung halaman. Serasa rekreasi emosional menembus waktu ke masa silam yang begitu terasa indah dan melankolis setelah lama berlalu.

Ada ungkapan klasik, manusia itu homo festivus, yakni makhluk yang senang festival. Begitu banyak ragam festival, termasuk festival yang bernuansa keagamaan. Ramai-ramai merayakan Lebaran bisa juga tergolong festival.

Ada lagi yang mengatakan, manusia itu makhluk peziarah. Wanderer or traveler being, yakni senang melakukan perjalanan atau jalan-jalan. Setiap datang hari libur, agenda utamanya jalan-jalan, rekreasi.

Tanpa dirancang sebelumnya, secara serempak dan akumulatif masyarakat ramai-ramai merayakan Lebaran menjadi sebuah festival dengan beragam dimensinya.

Secara religius pada malam sebelum Lebaran, suara takbir bergema memenuhi langit Indonesia, terpancar dari masjid, jalan-jalan, televisi, dan radio.

Menjelang Lebaran, prosesi kendaraan memenuhi jalan raya bagaikan semut, masing-masing punya tujuan berbeda. Namun, pada umumnya menuju kampung halaman masing-masing.

Suasana psikologis setelah berpuasa sebulan dan saling memaafkan mendatangkan rasa lega. Berbagai ganjalan di hati terasa hilang atau berkurang.

Namun, perlu diingat bahwa hubungan dengan Tuhan dan kekeluargaan serta perkawanan sifatnya lebih pribadi, tidak berarti menyelesaikan persoalan yang menyangkut utang atau urusan perdata serta pidana.

Tak bisa dimungkiri banyak nilai dan sikap yang mulia berkat berpuasa dan ber-Lebaran. Namun, tujuan puasa ialah untuk meraih keselamatan pribadi, lalu merambah ke ranah keselamatan sosial.

Keselamatan pribadi agar terhindar dosa dan siksa neraka. Adapun keselamatan sosial ialah dengan mewujudkan kesejahteraan, keadilan, dan kedamaian. Keselamatan sosial inilah yang mesti menjadi agenda semua orang beriman yang juga menjadi tugas serta tanggung jawab negara untuk mewujudkannya.

Kita semua berharap bahwa perilaku santun, damai, dan mampu menahan diri dari berbagai godaan duniawi bukan sekadar interval sesaat, melainkan menjadi jati diri dan komitmen bersama sebagai modal tekad dan kekuatan untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang bersih. Selamat ber-Lebaran di kampung halaman. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved