Berita Bantul Hari Ini

Jelajah Wisata Hutan Pinus Mangunan

Hutan Pinus Mangunan cocok jadi referensi wisatawan yang ingin melepas penat atau menyegarkan pikiran dari hiruk pikuk keramaian masyarakat.

Tayang:
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Gaya Lufityanti
Tribunjogja.com/Neti Rukmana
Para wisatawan sedang mengabadikan momen ketika berkunjung ke Hutan Pinus Mangunan, Sabtu (13/1/2024). 

"Tempat wisata itu mulai berdiri pada 2012. Saat itu, status Hutan Pinus Mangunan masih rintisan. Di mana, ada petani hutan yang punya kegiatan menyadap atau mengambil getah pinus," urai dia.

"Kemudian, mereka didampingi oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan DIY. Tapi, lama-lama ada inisiatif dari kelompok tani itu untuk membuka lapak tempat penitipan kendaraan," imbuhnya.

Pasalnya, saat itu, tempat wisata tersebut cukup dilirk oleh sejumlah wisatawan.

Namun, skala jumlah wisatawan yang berkunjung masih sedikit.

Kemudian, kala itu sistem pengamanan dan keamanan belum ada. 

Sehingga, tempat penitipan kendaraan itu pun dibuat dan didirikan oleh sejumlah petani yang juga merupakan warga setempat.

Kondisi penitipan kendaraan itu masih masih sangat sederhana.

"Lalu selama dua tahun ke depan, kondisi kunjungan wisatawan masih sepi. Hanya ada satu atau dua wisatawan pada hari-hari biasa dan beberapa wisatawan pada akhir pekan," tutur dia.

"Tapi, sekitar 2014-2015 itu, kunjungan wisatwan mulai ramai dan petani sadap atau yang mengambil getah pinus sudah mulai membersihkan semak-semak yang ada di dalam.

Hal itu kemudian membuat Gubernur DIY berkunjung dan menyampaikan beberapa arahan kepada para petani sadap atau yang mengambil getah pinus.

"Katanya, kalau para petani itu mau melanjutkan atau mengelola hutan pinus menjadi obyek wisata, silahkan berkirim surat ke Kementerian Lingkungan Hidup dan kehutanan dan dijawab bahwa pengelolaan hutan itu ada di Pemerintah DIY," jelasnya.

"Setelah itu kami ajukan. Tapi kalau mau kerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY paling tidak ada masyarakat yang mempunyai badan hukum," sambung Hendri.

Sehingga, pada 2016, kelompok tani hutan pinus tersebut mendirikan Koperasi Notowono dan memproses kerja sama dengan destinasi wisata Hutan Pinus Mangunan kepada pemerintah terkait yang akhirnya disetujui pada 2017.

"Bersyukurnya, kunjungan wisatawan terus berjalan dengan baik dan terdapat retribusi wisata ke pemerintah terkait," tuturnya.

"Memang sempat terdapat penurunan kunjungan wisatawan pada saat pandemi Covid-19. Tapi saat ini mulai berjalan normal dan rata-rata kunjungan wisatawan pada hari-hari biasa sekitar 500 orang. Kemudian pada akhir pekan bisa 1.000-2.000 orang," tandasnya.( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved