Berita Bantul Hari Ini
Bantul Nihil Kasus Antraks, DKPP Tetap Optimalkan Pantauan Hewan Ternak
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul memastikan bahwa wilayah Bumi Projotamansari masih bebas atau belum terdapat kasus antraks.
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul memastikan bahwa wilayah Bumi Projotamansari masih bebas atau belum terdapat kasus antraks.
Kepala DKPP Bantul, Joko Waluyo, mengatakan, sejauh ini, kasus antraks yang terjadi di luar Kabupaten Bantul tidak memberikan dampak negatif terhadap kesehatan hewan di wilayah pimpinannya.
"Sampai sekarang, Bantul alhamdulillah tidak ada antraks. Semoga saja, Bantul tidak terkena antraks," katanya kepada awak media di kantor DKPP Bantul, Jumat (15/12/2023).
Baca juga: Ekonomi Asia Diprediksi Bakal Tumbuh di Tahun 2024, Indonesia Tunjukkan Stabilitas
Pasalnya, cukup banyak masyarakat Kabupaten Bantul memiliki usaha jual ternak maupun kuliner dari olahan ternak kambing, domba, sapi, dan kerbau.
Sebagai contoh, ada lebih dari 30 jagal atau pelaku potong sapi di Kabupeten Bantul yang setiap hari bekerja memotong ternak tersebut dan kemudian didistribusikan ke Kota Yogyakarta.
Kemudian, ada pula, ratusan pelaku kuliner olahan hewan ternak yang kemudian dijual oleh masyarakat Kabupaten Bantul.
Satu di antaranya berupa kuliner sate klatak yang bahan bakunya didapatkan dari hewan ternak.
Lalu, apabila antraks itu menyerang ternak terbuat baik dalam skala besar maupun kecil, maka berpotensi menimbulkan permasalahan ekonomi di Bumi Projotamansari.
Untuk itu, pihaknya terus melakukan pengawasan ketat terhadap sejumlah hewan ternak di Kabupaten Bantul.
"Kami juga ada petugas kesehatan hewan yang melakukan pengawasan keluar masuk ternak. Karena, terus terang mobilitas ternak untuk keluar atau masuk di Kabupaten Bantul itu masih cukup tinggi untuk dipergunakan menjadi bagan baku kuliner," terang dia.
Lebih lanjut, Joko mengatakan bahwa pihaknya turut serta mengoptimalkan pantauan hewan ternak melalui optimalisasi pos kesehatan hewan.
Hal itu, menjadi langkah utama untuk mengantisipasi kasus antraks maupun penyakit menular lainnya yang berpotensi menyerang hewan ternak.
"Kami ada 10 titik Poskeswan tang tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Bantul. Nah, masing-masing Poskeswan itu ada dokter hewan yang juga memeriksa kondisi kesehatan hewan ternak di Kabupaten Bantul," urai Joko.
"Di Poskeswan juga ada program pemberian disinfektan untuk ternak. Karena, kasus antraks itu terjadi dari spora yang hidup di dalam tanah sampai puluhan tahun," tandas Joko. (nei)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Kepala-DKPP-Bantul-Joko-Waluyo-151223.jpg)