Profil Singkat dan Perjalanan Karir Cak Diqin, Seniman Campursari yang Meninggal Hari Ini

Penyanyi yang terkenal dengan lagu Cinta Tak Terpisahkan tersebut menghembuskan nafas terakhirnya di RSUD Pandan Arang Boyolali.

Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
TribunSolo.com
Penyanyi Campursari H. Muhammad Sodiqin atau Cak Diqin menghembuskan napas terakhirnya di RSUD Pandan Arang Boyolali pada Jumat (10/11/2023). 

TRIBUNJOGJA.COM, BOYOLALI - Duka menyelimuti dunia campur sari di Tanah Air. Salah satu maestro campurasi, Cak Diqin atau Muhammad Sodiqin berpulang pada Jumat (10/11/2023) pagi.

Penyanyi yang terkenal dengan lagu Cinta Tak Terpisahkan tersebut menghembuskan nafas terakhirnya di RSUD Pandan Arang Boyolali.

Cak Diqin meninggal sekitar pukul 07.00 WIB.

Informasi meninggalnya Cak Diqin ini dibenarkan oleh Kepala Ruang Jenazah RSUD Pandan Arang Suranto.

"Iya benar, saat ini proses memandikan jenazah," kata Suranto seperti yang dikutip dari Tribunsolo.com.

Dia mengatakan, rencana Jenazah dibawa ke rumah duka di Banyudono. 

Perjalanan Karir Cak Diqin

Cak Diqin terkenal sebagai salah satu penyanyi campursari kondang di Tanah Air selain Mathous.

Dari seni memang sudah mengalir dalam diri Cak Diqin sejak kecil.

Bahkan jabatan sebagai Penilik Kebudayaan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jayapura dia tinggal demi fokus menjadi seorang seniman.

Cak Diqin menjadi seorang PNS pada tahun 1986 silam.

Namun tugas belajar ke Solo menjadi tonggak perjalanan karirnya sebagai seorang penyanyi campursari.

Cak Diqin mendapat tugas belajar oleh negara pada tahun 1993.

"Saya ke Solo tahun 1993 dalam rangka tugas belajar di STSI Surakarta (sekarang ISI, red) ambil jurusan tari," ujarnya kepada Tribunnews.com, Jumat (12/6/2020) silam.

Saat itu seni campursari memang tengah booming di Tanah Air.

"Tahun itu awal-awal campur sari Pak Manthous," ujarnya.

Cak Diqin pun akhirnya bergabung dengan grup campur sari Manthous.

"Tahun 1994 saya gabung di gerbangnya Manthous," ungkap Cak Diqin.

Cak Diqin bergabung bersama Manthous menjadi pembawa acara atau MC.

"Saya dulu MC-nya Mas Manthos, dimanapun Mas Manthos saya yang MC," ujarnya.

Tugas belajar Cak Diqin di STSI Surakarta pun tidak dapat diselesaikannya.

"Karena di tengah jalan saya memutuskan untuk melepas atribut PNS dengan hormat kepada negara," ujarnya.

Cak Diqin mengungkapkan ia resmi melepas atribut abdi negara pada 2003 saya.

"Kemudian menyandang seniman secara utuh," ujarnya.

Musisi kelahiran Banyuwangi, 15 April 1964 tersebut mengaku mulai menciptakan lagu campur sari di tahun 1996.

Cak Diqin mengaku hingga kini sudah lebih dari 150 lagu ia ciptakan.

"Sekitar 150-an lagu lebih," ungkapnya.

Kala menjadi musisi, Cak Diqin tak hanya manggung di dalam negeri.

"Saya pernah manggung di Hongkong dan Malaysia," ujarnya.

Beberapa lagu populer karya Cak Diqin antara lain Cinta Tak Terpisahkan, Tragedi Tali Kutang, Slenco, Sepur Argo Lawu, dan Lohan.

Kini, Cak Diqin masih aktif membuat lagu campur sari.

Bangun Ponpes di Boyolali

Cak Diqin mengungkapkan, dirinya kini juga berkonsentrasi dalam mendirikan pondok pesantren (ponpes) di Boyolali, Jawa Tengah.

"Lokasinya di Kecamatan Banyudono, Boyolali, namanya Ponpes Tanah Jawi," ungkapnya.

Cak Diqin menyebut saat ini Ponpes Tanah Jawi tengah dalam proses pembangunan fisik.

"Sudah pembebasan lahan, mulai pembangunan fisik," ujarnya.

Profil Singkat Cak Diqin

Berikut profil singkat Cak Diqin berdasar penuturan Cak Diqin dan berbagai sumber.

Nama : Muhammad Shodiqin

Nama Panggung : Cak Diqin

Tempat Tanggal Lahir : Banyuwangi, 15 April 1964

Pasangan : Nyimut Sri Lestari

Anak :

- Muhammad Fajrul Khadafi

- Muhammad Sunan Alit

- Salsabila Hananti

- Renik Nada Lokananta

Penghargaan yang Pernah Diraih :

- Penghargaan "Karya Produksi Terbaik Bidang Lagu Berbahasa Daerah" dari AMI Awards 2006 (bersama Ami Ds).

- Rekor MURI nomor 2944 untuk pentas campursari tanpa henti 33 jam, 33 menit, 33 detik (sebagai ketua CCI, dibantu Pemerintah Kabupaten Karanganyar) tahun 2007.

- Rekor MURI untuk pentas campursari tanpa henti 66 jam, memperingati HUT Bhayangkara tahun 2012 (sebagai ketua CCI, didukung Polda Jawa Tengah).

- Rekor MURI untuk pentas campursari tanpa henti 73 jam, memperingati HUT TNI, tahun 2014 (sebagai ketua CCI, didukung Kodam IV/Diponegoro).

- Rekor MURI untuk pentas campursari tanpa henti 90 jam, memperingati Hari Jadi Gunungkidul yang ke-185 (didukung oleh Pemda Kabupaten Gunungkidul dan 45 Grup campursari dari Gunungkidul dan sekitarnya).

(*)

 

 

 

Sumber: Tribun Solo
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved