Berita DI Yogyakarta Hari Ini
Keraton Yogyakarta Gelar Pameran Lenggahing Harjuno, Ajak Masyarakat Mengenal Sosok Sri Sultan HB X
Pameran juga menyajikan berbagai capaian dan paradigma kebudayaan yang dicanangkan saat menjadi Sri Sultan HB X menjadi raja dan gubernur.
Penulis: Yuwantoro Winduajie | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Keraton Yogyakarta menggelar serangkaian kegiatan bertajuk Lenggahing Harjuno untuk merayakan 80 tahun usia Sri Sultan Hamengku Buwono X .
Kegiatan diawali dengan pameran berjudul Lenggahing Harjuno, Sultan, Takhta, dan Kedaulatan dengan menampilkan kronik dari sosok pangeran muda BRM Herjuno Darpito yang kini dikenal sebagai Raja Keraton Yogyakarta dengan sebutan Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Pameran juga menyajikan berbagai capaian dan paradigma kebudayaan yang dicanangkan saat menjadi Sri Sultan HB X menjadi raja dan gubernur.
Seremonial pembukaan pameran diselenggarakan pada Jumat (21/10/2023) yang ditandai dengan pertunjukan wayang wong lakon Gana Kalajaya persembahan KHP Kridomardowo.
Bertempat di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran, pertunjukan tersebut berkisah mengenai lakon Gana Kalajaya sebagai salah satu lakon wayang wong yang tercipta pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono X, menceritakan tentang kelahiran Bathara Gana atau Dewa Ganesha dalam versi Keraton Yogyakarta.
Dalam sambutannya, Sri Sultan mengungkapkan, angka delapan dalam momentum 80 tahun menjadi refleksi dari amanat leluhur untuk tetap teguh memegang prinsip hamangku, hamengku, hamengkoni.
Prinsip yang menjadi dasar dalam meneguhkan takhta untuk rakyat serta takhta bagi kesejahteraan kehidupan sosial dan budaya rakyat.
“Pahargyan 80 tahun yang diwujudkan dalam pameran bukan hanya asa dan prestasi semata. Delapan puluh tahun adalah perwujudan dari piwulang adiluhur dan adiluhung yang termaktup pada setiap pengalaman dan disedimentasi dalam Serat Lenggahing Harjuno. Ketokohan Harjuno sebagai perlambang kesatria sejati mendidik pada setiap pribadi yang menekuni laku hidupnya untuk terus eling lan waspada,” ungkap Sri Sultan.
Diilhami dari Serat Lenggahing Harjuno yang ditulis langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X, pameran Lenggahing Harjuno menyajikan ritus hidup Sultan dengan berbagai piwulang adiluhur dan adiluhung.
Pada diskursus Kebudayaan Jawa, catatan pribadi dari Sri Sultan Hamengku Buwono X merujuk pada pola didaktis dalam bentuk berbagai seni pertunjukan. Sementara konteks Takhta dan Kedaulatan sebagai bagian dari ketokohan Sultan merujuk pada sosok tunggal.
Sultan sebagai pimpinan tertinggi dalam institusi kebudayaan keraton secara daulat bertakhta dan diakui.
Perihal ini selaras dengan definisi daulat yang berarti berkat dan kebahagiaan yang tercurah pada seorang raja.
“Delapan puluh tahun bukan perkara angka, bukan pula waktu yang sebentar. Dalam konstelasi Budaya Jawa pun angka delapan memiliki arti yang mendalam. Masyarakat Jawa sendiri mengenal istilah tumbuk ageng atau 8 windu. Sementara 80 tahun sendiri telah melewati 8 windu, sebuah peristiwa yang syarat akan makna dan kontemplasi hidup. Pahargyan 80 Tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X, lagi dan lagi bukan sebuah perayaan melainkan laku peneladanan dari perjalanan hidup sang pangeran, sang pemimpin, sekaligus sang pengabdi atas takhta yang diembannya.,” ucap GKR Bendara.
Melalui gelaran pameran ini, Keraton Yogyakarta mengundang masyarakat untuk kembali mengenal sang sultan, sosok pemimpin tertinggi dari institusi budaya di keraton sekaligus Gubernur DI Yogyakarta.
Di sisi lain, masyarakat diajak untuk menjadi bagian dari gelaran pameran melalui rangkaian kegiatan yang diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Keraton-Yogyakarta-Gelar-Pameran-Lenggahing-Harjuno-Ajak-Masyarakat-Mengenal-Sosok-Sri-Sultan-HB-X.jpg)