Program Smart City, Upaya Mempermudah Hidup Masyarakat Klaten
Smart city di Klaten dibangun dengan 6 pilar, di antaranya pilar Smart Governance, Smart Branding, Smart Economy, Smart Living dan Smart Society
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah
TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Klaten terus berinovasi menciptakan Klaten sebagai kota yang pintar (smart city) memanfaatkan digitalisasi.
Dengan begitu, hidup masyarakat Klaten bisa lebih mudah, apalagi saat mengurusi administrasi penting.
“Konsep Klaten Smart City ini kan memang untuk melayani kebutuhan hidup masyarakat agar tidak ribet,” jelas Kepala Bidang Informatika dan Persandian, Diskominfo Klaten, Andi Hermanto kepada Tribun Jogja, Jumat (13/10/2023).
Dia mengungkap, smart city di Klaten dibangun dengan enam pilar, diantaranya pilar Smart Governance, Smart Branding, Smart Economy, Smart Living, Smart Society dan Smart Environment yang terbagi tugasnya di setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan berpusat di Diskominfo.
“Setiap smart itu, kita wajib punya quick wins atau program unggulan. Programnya mewakili enam dimensi. Contohnya, di Smart Governance itu ada Sakura. Itu adalah pelayanan administrasi kependudukan (adminduk),” jelasnya.
Kemudian, ada juga program Matur Dokter yang masuk dalam pilar Smart Living digagas oleh Dinas Kesehatan Klaten
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Klaten juga memiliki program unggulan, yakni Titip Bandaku yang mendigitalisasi dokumen administrasi penting masyarakat untuk mereka yang tinggal di kawasan rawan bencana seperti lereng Merapi.
“Smart Economy, ada Klaten Subur, kerja sama dengan Bank Klaten yang memberikan subsidi bunga dan pinjaman bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang ada di Klaten,” terang Andi.
Di Diskominfo sendiri ada program Kuping Panas, sebuah podcast atau siniar berkaitan dengan isu-isu terkini di media sosial, berkaitan dengan Kabupaten Bersinar.
“Kami memonitor media sosial, apa saja yang sedang dibicarakan masyarakat. Hal itu kita bahas di podcast dengan memanggil narasumber, kita bahas di situ,” kata dia.
Dia pun menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Klaten juga memiliki masterplan berkaitan dengan kota pintar ini.
Masterplan, kata dia, harus memiliki program yang berbeda dari kabupaten lain.
Di Klaten, ada program pembeda dari yang lain, yakni menanam padi Srinar dan Srinuk, kerja sama Pemkab Klaten dengan Badan Tenaga Nuklir (Batan) yang memungkinkan beras Rojolele asal Delanggu, Klaten bisa dipanen setelah tiga bulan masa tanam.
“Program smart city dari pemerintah pusat ini jadi stimulan kepada OPD, khususnya untuk melayani publik agar masyarakat terlayani dengan baik. Jadi, jangan waton bikin aplikasi, yang penting untuk penilaian, tapi nggak dipakai atau pas dipakai ribet. Pastinya e-government ini sudah dipayungi peraturan,” tutup dia.
Mengutip laman jatengprov.go.id, Kabupaten Klaten menjadi salah satu dari 25 kabupaten/kota yang terpilih dalam Gerakan Menuju 100 Smart City untuk mengikuti program pendampingan pada 2019.
Ke-25 kota/kabupaten terpilih ini melengkapi 75 kota/kabupaten yang telah terpilih pada 2017 dan 2018, sehingga total ada 100 kota/kabupaten yang telah mengikuti Gerakan Menuju 100 Smart City tersebut. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Sejumlah-pengunjung-saat-berfoto-di-kawasan-Alun-Alun-Klaten.jpg)