Sumbu Filosofi Yogyakarta

Penetapan Sumbu Filosofi Sebagai Warisan Budaya Dunia Punya Multiplier Efek 

Penetapan kawasan sumbu filosofi sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO dianggap dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi DIY. 

Tayang:
Penulis: Yuwantoro Winduajie | Editor: Gaya Lufityanti
visitingjogja
Peta Sumbu Filosofi Keraton Yogyakarta 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA- Penetapan kawasan sumbu filosofi sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO dianggap dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi DIY. 

Asisten Sekda DIY Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Tri Saktiyana mengatakan perekonomian dunia berjalan dengan setidaknya empat segmen. Segmen pertama digerakan oleh jual beli komoditas, seperti tambang, hasil hutan, dan lainnya. 

Segmen selanjutnya bergerak ke arah industri. Komoditas kemudian diubah menjadi sebuah produk olahan.

Dengan begitu nilai ekonominya akan lebih tinggi dan berkelanjutan. 

"Misalnya kopi, secara komoditas bisa dijual kuintal-kuintalan. Tetapi kalau sudah dibungkus (diolah), hitungannya gram. Sehingga nilai ekonomi lebih tinggi dan lebih sustain dari pertama," katanya, Minggu (24/09/2023). 

Baca juga: Penetapan Sumbu Filosofi Jadi Warisan Budaya Dunia Bisa Perkuat Branding DIY Sebagai Kota Wisata

Saat ini, ekonomi bergerak ke arah jasa dan gaya hidup.

Menurut dia, ditetapkannya sumbu filosofi sebagai warisan budaya dunia termasuk pada gaya hidup. 

"Sama seperti kopi tadi, yang juga dijual adalah cerita tentang kopi, gaya hidup ngopi. Nah sumbu filosofi itu juga "gaya hidup", menunjang gaya hidup. Sekarang orang beli pengamalan, membeli cerita. Sehingga sumbu filosofi ini bukan benda, tetapi cerita dibalik benda itu. Nah ini yang dihargai UNESCO," terangnya. 

"Nah kalau ini bisa menghasilkan ekonomi kalau menjadi bagian dari pariwisata kita. Jadi kalau kita lihat Tugu Jogja, ya cuma kecil. Kalau dibanding Monas, nggak ada apa-apa nya. Tetapi kan cerita dibalik itu yang kemudian membuat orang datang. Ekonomi jadi aspek ikutannya. Kalau orang datang, pasti makan, nginep, ada transportasi, beli oleh-oleh, beli fesyen, dan lainnya. Multiplier efeknya besar," lanjutnya. 

Ia menilai masyarakat di sekitar sumbu filosofi pun harus disiapkan.

Sehingga ada efek sosial, ekonomi dan budaya yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan. 

"Tentu nggak sehari, dua hari. Ada program-program ikutan, sehingga hanya di penggal jalan itu saja. Ada masyarakat yang harus disiapkan. Di barat Code, dan timur, Winongo, untuk mensuport sumbu filosofi itu," imbuhnya. ( Tribunjogja.com

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved