Ajaran Filsuf
Mengenal Sosok Al Kindi Bapak Filsafat Islam yang Dituduh Kafir
Nama Al Kindi agaknya lebih jarang didengar daripada nama filsuf Muslim lainnya seperti Ibnu Sina dan Al Ghazali.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM - Nama Al Kindi agaknya lebih jarang didengar daripada nama filsuf Muslim lainnya seperti Ibnu Sina dan Al Ghazali.
Padahal, sejarah filsafat Islam tidak bisa dilepaskan dari andil pemikiran Al Kindi.
Filsuf Muslim asal Kufah (Irak) bernama lengkap Abu Yusuf Ya'qub bin Ishaq Al-Kindi ini adalah penggerak tradisi filsafat sehingga dikenal sebagai Bapak Filsafat Islam.
Al-Kindi lahir di awal abad awal abad 9 yaitu sekitar tahun 801 Masehi.
Baca juga: Fakultas Filsafat UGM Resmikan Laboratorium Kewirausahaan dan Co-working Space Mahasiswa
Al Kindi menguasai hampir semua bidang ilmu pengetahuan cabang ilmu pengetahuan seperti matematika, astronomi, astrologi, kimia, logika, filsafat, dan sains.
Bahkan, Al Kindi yang ahli di bidang matematika ini adalah orang pertama yang mengenalkan angka India ke dunia Islam.
Corak pemikiran Al Kindi dipengaruhi oleh filsuf sebelumnya, seperti Aristoteles, Neo-Platonisme, Mu’tazilah, dan lainnya.
Al Kindi mencoba mengharmonisasikan antara Islam dengan filsafat karena baginya filsafat dapat menjadi paradigma baru yang dapat membantu umat Islam berpikir.
Namun, niat baik Al Kindi mendapat respon yang kurang mengenakkan dari umat Islam saat itu.
Wajar saja karena memang keterbatasan pengetahuan membuat mereka menganggap filsafat adalah produk barat.
Bahkan, orang yang tertarik pada filsafat dianggap kafir sebab senang mempertanyakan pertanyaan kritis terhadap agama.
Saat itu banyak orang yang mencela Al Kindi, bahkan menganggap Al Kindi tidak mempercayai Tuhan.
Namun, Al Kindi menanggapi segala cemoohan orang-orang dengan kepala dingin.
Al Kindi mengatakan bahwa kita seharusnya tidak malu mengakui kebenaran dari sumber apa pun yang datang kepada kita, bahkan jika itu disampaikan oleh generasi sebelumnya dan orang asing.
Bagi Al Kindi, yang paling luhur dan mulia di antara karya manusia adalah karya filsafat.
Filsafat dapat membantu manusia menemukan kebijaksanaan dalam hidup.
Selain itu, dengan belajar filsafat dapat memperluas perspektif seseorang terhadap banyak hal.
Al Kindi memberikan pesan menohok, yaitu sesungguhnya dalam keadaan apapun orang tidak bisa menolak filsafat.
Jika ia menerima filsafat, maka ia akan mempelajarinya.
Jika ia menolak filsafat, ia juga harus berfilsafat untuk membuat argumen tentang kebenaran dirinya.
Argumen tersebut juga termasuk dalam filsafat, yakni ilmu tentang hakikat sesuatu.
Bagi Al Kindi, belajar filsafat adalah sebuah seni untuk menggunakan akal pemberian Tuhan dengan baik.
Bahkan, dalam Al Quran Allah berulang kali memerintahkan manusia untuk berpikir tentang alam semesta ciptaan-Nya menggunakan akalnya. (MG Indah Yulia Agustina)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.