Penutupan TPA Piyungan

Waspada! Tren Kebakaran di Kota Yogya Meningkat, Mayoritas Bermula dari Pembakaran Sampah

Sepanjang Juli 2023, ada 8 kali kebakaran yang sebagian besar diakibatkan oleh human error, yang bermula dari pembakaran sampah.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Gaya Lufityanti
Tribun Jogja/ Suluh Pamungkas
Ilustrasi kebakaran 

TRIBUNJOGJA.COM - Kemarau panjang hingga kondisi darurat sampah yang kini melanda Kota Yogyakarta , sontak meningkatkan potensi insiden kebakaran .

Benar saja, dalam kurun satu bulan terakhir, tercatat 8 kejadian kebakaran di wilayah Kota Pelajar, di mana sebagian besar berihwal dari pembakaran sampah warga.

Kabid Operasional Penanggulangan Kebakaran Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Yogyakarta , Rudi Firdaus, mengungkapkan, kedua hal tersebut memang jadi fokus antisipasinya.

Pasalnya, penutupan TPA Piyungan di masa kemarau panjang ini, membuat masyarakat yang belum terbiasa melakukan upaya pengelolaan limbah, memilih untuk mengambil jalan pintas, yakni dengan langkah pembakaran.

Baca juga: Akibat Buka Tutup Depo Sampah, Warga dan Petugas Truk Sampah di Yogyakarta Saling Lempar Sampah

"Yang kami antisipasi pertama tentu pemicunya, dari api pembakaran sampah. Kami koordinasikan dengan wilayah, agar masyarakat tidak membakar sampah . Di Perwal sudah dilarang," tegasnya, Rabu (2/8/2023).

Namun, lanjut Rudi, kenyataan di lapangan berbicara sebaliknya, di mana masih banyak warga masyarakat yang nekat membakar sampahnya, lantaran sejumlah depo maupun tempat pembuangan sementara masih ditutup.

Contoh terdekatnya pun baru beberapa hari lalu, ketika satu regu Damkarmat Kota Yogya turut berjibaku memadamkan api di sebuah lahan kosong yang berada di sekitar Jogja Expo Center (JEC).

"Kemarin yang kebakaran lahan di sekitar JEC karena sampah juga. Sampah dibakar kemudian tertiup angin. Alhamdulillah bisa cepat padamkan," cetusnya.

Ia pun memaparkan, sepanjang Juli 2023, pihaknya 8 kali melakukan upaya pemadaman kebakaran, yang sebagian besar diakibatkan oleh human error, yang bermula dari pembakaran sampah .

Menurutnya, masih banyak warga masyarakat yang melakukan pembakaran di dekat benda-benda yang sifatnya mudah terbakar, kemudian nyala apinya ditinggalkan begitu saja.

"Jadi, kemarin itu rata-rata bisa 2 kali dalam seminggu ada insiden kebakaran . Mayoritas, ya, karena human error itu, pembakaran sampah yang ditinggal," ucapnya.

Baca juga: Antisipasi Tumpukan Limbah di Objek Wisata, Dispar Kota Yogya: Turis Dilarang Meninggalkan Sampah

"Padahal, di musim kemarau panjang ini kita harus lebih waspada, karena anginnya jadi lebih kencang. Sehingga, ketika terjadi kebakaran di sebuah lahan, api akan cepat sekali menyebarnya," tambah Rudi.

Hanya saja, ia menyadari, untuk melarang warga agar tidak melakukan aktivitas pembakaran sampah selaras Perwal, memang cukup sulit.

Karena itu, pihaknya pun mengimbau, ketika pembakaran sampah tidak dapat terhindarkan lagi, alangkah baiknya dilakukan di tempat-tempat aman, supaya tidak berpotensi merembet.

"Pastikan lokasi dibakarnya sampah itu steril, jauh dari bahan-bahan di sekitarnya yang mudah terbakar. Jadi, api tidak merembet. Kemudian, yang paling penting, jangan ditinggal. Kalau api ditinggal, kita tidak tahu kalau terjadi sesuatu di sana," terangnya. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved