Petani Kabupaten Magelang Antusias Ikuti Bimtek Pembuatan Biosaka
Kegiatan ini sebagai upaya untuk menyikapi kondisi lahan pertanian yang tidak ideal karena sudah rusak akibat penggunaan pupuk kimia
Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting
TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Dinas Pertanian Kabupaten Magelang menggelar bimbingan teknis pembuatan Biosaka yang diikuti sejumlah petani di Gudang Cadangan Pangan Badan Pelaksana Penyuluh dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Kabupaten Magelang, pada Selasa (25/7/2023).
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Magelang, Romza Ernawan, mengaku sangat mendukung petani untuk beralih ke produk Biosaka.
Kegiatan ini sebagai upaya untuk menyikapi kondisi lahan pertanian yang bermasalah dan tidak ideal karena sudah rusak akibat penggunaan pupuk kimia
"Sehingga, pengaplikasian Biosaka dengan teknologi yang sederhana dengan bahan baku yang mudah ditemukan di lingkungan petani sendiri. Kami harapkan dengan kegiatan ini, pengaplikasian Biosaka bisa secara masif untuk meningkatkan kualitas dan mutu pangan kita,"ujarnya.
Penemu Biosaka, Muhammad Ansar dari Blitar mengatakan Biosaka merupakan inovasi pertanian yang digunakan sebagai elisitor yakni senyawa kimia yang dapat memicu respon fisiologi, morfologi pada tanaman menjadi lebih baik yang dibuat secara organik.
"Sebenarnya, Biosaka itu bukan produk melainkan gerakan moral yang berasal dari kata SAKA (selamatkan alam kembali ke alam). Sedangkan, BIO nya itu diambil dari segala kekayaan hayati yang ada disekitar kita, salah satunya rumput yang memiliki zat unsur hara yang tinggi,"ujarnya di sela kegiatan.
Adapun proses pembuatan Biosaka, lanjut dia, dimulai dari meremas tumbuhan dengan tangan.
Kemudian, campurkan bahan dengan air bersih sampai saripati rumput menyatu dengan air.
"Biosaka hanya dibuat dengan bahan yang ada disekitar kita atau lebih dikenal agro-ekosistem, seperti rumput atau tanaman sehat lainnya. Karena, biosaka ini tidak bisa dibuat dengan teknologi semua dibuat dengan tangan, proses pembuatan sekitar 15-20 menit," ujarnya.
Ia melanjutkan, untuk satu genggam rumput bisa menghasilkan sekitar 5 liter Biosaka. Di mana, 5 liter Biosaka bisa digunakan untuk 3 sampai 5 hektare sawah.
"Jadi Biosaka itu bukan pupuk, tetapi sel yang diambil dari sel tepi tanaman. Itu membentuk pigmen yang mengandung bahan kimia yang memunculkan pertahanan sehingga terjadilah elisitor,"ungkapnya.
Supri (72), seorang petani asal Srumbung, Kabupaten Magelang mengaku sangat antusias mengikuti kegiatan ini.
Menurutnya, sebagai petani sangat perlu mengetahui penggunaan Biosaka untuk mengurangi pembiayaan.
"Saya petani yang kurang modal tetapi bukan petani organik. Jadi, saya ingin tahu seperti apa Biosaka itu. Saya rasa dari Bimtek ini, saya sedikit demi sedikit akan mencoba beralih ke Biosaka tetapi tidak spontan pasti sulit tetapi akan saya coba. Untuk pembuatannya juga termasuk mudah dan murah,"urainya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/petani-di-Kabupaten-Magelang-saat-membuat-Biosaka.jpg)