Berita Jogja Hari Ini

Prajurit Keraton Yogyakarta, Pelestari Budaya dan Daya Tarik Wisata

Hal tersebut dipaparkan dua sumber dari Keraton Yogyakarta yakni GBPH Yudhaningrat dan KRT Jatiningrat dalam bincang budaya 'Menggaungkan Kembali

Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/Hanif Suryo
Bincang budaya 'Menggaungkan Kembali Yang Punah' dengan tema Prajurit Keraton Ngayogyakarta, Bagaimana Melanjutkan Pelestarian dan Pengembangannya di Ndalem Yudhanegaran,Sabtu (4/3/2023). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sebagai sebuah kerajaan, Keraton Yogyakarta memiliki kesatuan prajurit yang disebut dengan bregada.

Keberadaan prajurit di Keraton Yogyakarta tidak terlepas dari "Perang Mangkubumen" yaitu perang antara Pangeran Mangkubumi melawan VOC (1746-1755) yang berakhir dengan disepakatinya Perjanjian Giyanti.

Kesatuan-kesatuan prajurit yang berperang dalam Perang Mangkubumen itulah yang kemudian menjadi cikal bakal prajurit Keraton Yogyakarta.

Akan tetapi setelah perang berakhir, bregada difungsikan untuk melengkapi acara-acara kebudayaan Keraton yang dipertahankan hingga hari ini.

Baca juga: Teknisi Honda Ikuti Uji Kompetensi untuk Jaga Kualitas Layanan

Fungsi prajurit keraton yang sebelumnya bertugas sebagai kesatuan militer kini telah berubah menjadi pelestari kebudayaan serta daya menjadi daya tarik wisata.

Hal tersebut dipaparkan dua sumber dari Keraton Yogyakarta yakni GBPH Yudhaningrat dan KRT Jatiningrat dalam bincang budaya 'Menggaungkan Kembali Yang Punah' dengan tema Prajurit Keraton Ngayogyakarta, Bagaimana Melanjutkan Pelestarian dan Pengembangannya, Sabtu (4/3/2023).

GBPH Yudhaningrat memaparkan, di Keraton Yogyakarta memiliki 10 bregada. Sebanyak 8 bregada di bawahi langsung Keraton Yogyakarta sedangkan 2 lainnya diberikan tugas khusus.

"Misal Bregada Surakarsa yang diberikan tugas menjaga Adipati Anom (Putra Mahkota)," ujar GBPH Yudhaningrat.

Dilanjutkannya, peran bregada kini mengalami pergeseran fungsi. 
 
"Prajurit Kraton tugas paling pokok melanjutkan dan melestarikan Keraton Yogyakarta. Mereka tidak berperang namun untuk acara budaya, keagamaan seperti Grebeg yang dilaksanakan Kraton. Acara adat lain misalnya perkawinan agung ada perintah Sultan untuk melaksanakan. Namun Prajurit Kraton tetap melaksanakan tugas, menjaga keamanan dan ketertiban di Kraton juga membantu abdi dalem," paparnya. 
 
KRT Jatiningrat menambahkan bahwa keprajuritan Kraton yang sudah mengakar budaya harus terus dilestarikan ke depan. 

Selama ini baik abdi dalem maupun bregada keprajuritan memiliki cara unik untuk meregenerasi diri yakni dari orangtua pada anak, namun tidak sedikit yang muncul dari keinginan pribadi orang per orang. 
 
Sementara, Gayatri Wibisono, pendiri Indonesiagaya, mengatakan bahwa pihaknya memiliki concern pada kerajinan, alam dan budaya yang menjadi unsur penting di Indonesia.
 
"Salah satunya di Jogja hari ini kami lakukan bincang budaya untuk mendapat wacana informasi budaya khususnya di Jogja. Ketika sesuatu dibicarakan, menarik maka harapannya tidak menjadi punah," pungkasnya. (Han)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved