Talut Sungai Dengkeng di Paseban Klaten Ambrol, Akses Jalan Kampung Ditutup
Warga sekitar berharap talut yang ambrol sekitar 80 meter itu segera diperbaikan agar tak berdampak ke pemukiman warga sekitar.
Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Akses jalan kampung di RW 10 Dukuh Wetan Pasar, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah terpaksa ditutup akibat talut Sungai Dengkeng di wilayah itu ambrol.
Warga sekitar berharap talut yang ambrol sekitar 80 meter itu segera diperbaikan agar tak berdampak ke pemukiman warga sekitar.
Seorang warga sekitar, Karniyati (40), menyebut jika talut Sungai Dengkeng tersebut ambrol secara bertahap sejak satu bulan terakhir.
Talut itu ambrol terakhir kali diketahui pada Selasa (28/2/2023) akibat hujan deras yang mengakibatkan debit air Sungai Dengkeng meninggi.
"Itu ambrol sudah sebulan. Penyebabnya tergerus air sungai karena hujan tinggi," ujarnya saat TribunJogja.com temui di rumahnya, Kamis (2/3/2023).
Menurutnya, pada awal ambrol, talut tersebut sempat ditangani secara darurat oleh relawan dan warga sekitar dengan menggunakan karung berisi pasir.
Namun, upaya itu tak cukup kuat untuk menahan arus sungai itu bila hujan deras mengguyur wilayah Kecamatan Bayat.
"Harapan kami ini segera ditangani, untuk keamanan jalan kampung terpaksa ditutup agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan," ucap dia.
Menurut Karniyati, talut yang ambrol itu dibangun sekitar tujuh tahun yang lalu.
Tujuannya agar air sungai tak masuk ke perkampungan saat debit air meningkat.
"Usianya sekitar tujuh tahun. Baru satu bulan ini ambrol. Kalau dulu-dulu nggak pernah bagian sini ambrol," tukasnya.
Sekretaris BPBD Klaten, Nur Tjahjono Suharto menyampaikan, talut Sungai Dengkeng yang ambrol itu terjadi lagi, Selasa (28/2/2023).
"Kawasan Paseban terjadi hujan dengan intensitas lebat dan meningkatnya debit air sungai dan menyebabkan talut sungai ambrol kembali," ucapnya, Kamis (2/3/2023).
Menurutnya, talut yang ambrol itu, memiliki panjang sekitar 78 meter dengan ketinggian talut 4 meter serta lebar 0,50 meter.
"Apabila talut tak segera diperbaiki bisa mengancam pemukiman dan tempat wisata yang ada di sekitar," ucapnya.
Adapun nilai kerusakan akibat talut ambrol itu, lanjut Nur Tjahjono sekitar Rp124 juta dengan kategori rusak berat.
Selain itu, kata dia, pada Rabu (1/3/2023) hujan deras yang mengguyur Klaten menyebabkan atap dua rumah warga di Desa Klepu, Kecamatan Ceper mengalami kerusakan.
Tak ada korban jiwa atas peristiwa itu, namun dua pemilik rumah memiliki kerugian sekitar Rp1 juta dan Rp500 ribu. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Penampakan-talut-Sungai-Dengkeng-Klaten-yang-ambrol.jpg)