Berita Klaten Hari Ini

Penjual Cilok di SMA Klaten Ini Kompak Pakai Batik Sama Saat Berjualan, Ini Tujuannya

Terdapat lima penjual cilok keliling di SMA di Desa Pasung, kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten yang berjualan mengenakan baju sama.

Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Gaya Lufityanti
Tribunjogja.com/Almurfi Syofyan
Penjual cilok di depan satu SMA di Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten saat mengenakan seragam batik warna biru, Kamis (19/1/2023). 

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Berbagai cara unik dan kreatif dilakukan sejumlah pedagang untuk membuat usaha yang dijalani menjadi laris manis.

Seperti yang dilakukan oleh penjual cilok keliling di sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) di Desa Pasung, kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten , Jawa Tengah.

Para pedagang cilok tersebut menarik perhatian pembeli dengan cara memakai seragam sama setiap harinya.

Adapun seragam yang digunakan adalah kemeja batik lengan pendek.

Baca juga: Sejarah Kuliner Jenang Ayu Bu Sono Klaten yang Sukses Tembus Pasar Arab Saudi hingga Inggris

Terdapat lima penjual cilok keliling di SMA tersebut yang berjualan mengenakan baju sama itu.

"Kalau totalnya ada lima pedagang, tapi hari ini kita yang datang hanya tiga," ucap seorang penjual cilok bernama tawar saat Tribunjogja.com temui di SMA itu, Kamis (19/1/2023).

Menurutnya, empat rekannya sesama penjual cilok lainnya memiliki nama panggilan Pak Petruk, Pak Min, Woyo-woyo dan Arifin.

Pada kamis siang itu, tiga penjual cilok keliling yang ditemui mengenakan kemeja batik warna biru.

Ia mengatakan, meski jenis usaha mereka sama yakni menjual cilok namun tak ada rasa saingan.

Sebab, ia dan rekan-rekannya yakin jika rezeki sudah ada yang mengatur.

Setiap hari, para penjual cilok itu mangkal di depan pintu gerbang SMA di Desa Pasung itu.

Baca juga: Pemkab Klaten Bakal Bangun Laboratorium BSL-2 dan Satu Puskesmas di Tahun 2023

Saat jam istirahat tiba, puluhan siswa mengerubuti dagangan mereka.

Penjual cilok lainnya, Pak Petruk mengatakan sudah 35 tahun menjual cilok.

Ide untuk mengenakan seragam batik sama itu muncul beberapa tahun lalu untuk menjalin kekompakkan.

Setiap hari, kata dia baju batik yang dikenakan berbeda-beda warnanya.

Senin mengenakan batik warna merah, selasa batik hijau, rabu batik warna coklat dan kamis serta jumat mengenakan warna biru dan kuning.

"Khusus untuk sabtu warna putih. Kalau minggu kita libur jualan," ungkapnya. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved