Persiba Bantul

Pemain Persiba Bantul Masih Berharap Kompetisi Bisa Tetap Digelar

Asprov PSSI DIY telah resmi membatalkan Liga 3 DIY sebab perizinan yang tak jelas dari sejumlah pihak terkait.

Penulis: Taufiq Syarifudin | Editor: Gaya Lufityanti
Dokumentasi Persiba Bantul
Pemain Persiba Bantul saat menjalani sesi latihan. 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Bek Persiba Bantul , Fachrizal Ahnaf Maulana tak bisa mengelak soal keinginannya bertanding di Liga 3 DIY musim 2022/2023. 

Fachrizal masih berharap kompetisi kasta ketiga Indonesia zona DIY itu bisa tetap digelar meskipun diputar jauh dari rencana awal.

Sebelumnya, Asprov PSSI DIY telah resmi membatalkan Liga 3 DIY sebab perizinan yang tak jelas dari sejumlah pihak terkait seperti kepolisian, gugus Covid-19, hingga pengelola stadion.

"Semua pemain pasti inginnya Liga 3 DIY tetap diputar. Tidak masalah meskipun mepet dengan jadwal putaran nasional. Asal tidak bertabrakan saja," kata Fachrizal, Minggu (1/1/2023).

Baca juga: Manajemen Persiba Bantul Berharap Ada Keajaiban Liga 3 DIY Bisa Tetap Digelar

Menurutnya Asprov PSSI DIY membatalkan Liga 3 zona DIY adalah keputusan yang amat mengecewakan.

Pasalnya banyak pemain muda lokal Yogyakarta yang sedang meniti karier sepak bola harus mengubur mimpinya musim ini, terutama yang tahun 2023 ini akan masuk kuota senior.

"Kecewa pasti, karena kami sudah persiapan begitu serius dan proses yang lama, tidak menyangka imbas tragedi kemarin bisa sampe kaya gini padahal Liga 1 bisa berjalan dengan cukup lancar," katanya.

Menurut pemain asli Bantul itu, situasi sepak bola DIY sangat ironis.

Sejak Desember 2022 lalu dua stadion di DIY, Stadion Maguwoharjo dan Sultan Agung dipakai untuk menggelar laga Liga 1 sampai akhir putaran pertama.

Selanjutnya, bahkan pada putaran kedua yang akan dimulai 16 Januari mendatang dua stadion itu akan kembali dipakai sebagai kandang sekitar empat klub berbeda untuk melanjutkan putaran kedua Liga 1.

Baca juga: Respon Persiba Bantul Terkait Pembatalan Liga 3 DIY 2022, Ini Kata Sang Pelatih Laskar Sultan Agung

Sementara itu kompetisi lokal DIY justru batal digelar, susah mendapat izin, sehingga waktu semakin mepet dengan putaran nasional.

Sejumlah tim yang sudah menggelar latihan intensif harus merugi setelah merogoh kocek dalam untuk mempersiapkan kompetisi.

Kerugian bagi tim tak hanya sebatas finansial, namun waktu, tenaga, hingga mental pemain menjadi pertaruhannya.

"Rasanya kita sudah kehilangan gairah untuk main sepak bola, karena kita benar-benar kehilangan kesempatan untuk bertanding di kompetisi dalam setahun ini, padahal itu sangat penting bagi kita yang bermain di Liga 3," katanya.( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved