Grup Musik Etnik Metiyem, Punya Misi Lestarikan Musik Warisan Leluhur

Segala sesuatu yang berbau tradisi kedaerahan, kerap diasosiasikan dengan ketinggalan zaman. Meski gerakan budaya kembali ke akar, bangga akan budaya

TRIBUNJOGJA.COM/Hanif Suryo
Pementasan karya grup musik Metiyem di Pendhapa Ajiyasa, Jogja National Museum (JNM), Wirobrajan, Kota Yogyakarta, belum lama ini 

TRIBUNJOGJA.COM - Segala sesuatu yang berbau tradisi kedaerahan, kerap diasosiasikan dengan ketinggalan zaman.

Meski gerakan budaya kembali ke akar, bangga akan budaya lokal masif dikampanyekan, namun sejatinya persepsi yang mengecilkan nilai tradisi itu masih ada di berbagai lini sosial.

Itu pula yang melatarbelakangi terbentuknya grup musik etnik asal Yogyakarta, Metiyem, yang menggelar pementasan karya di Pendhapa Ajiyasa, Jogja National Museum (JNM), Wirobrajan, Kota Yogyakarta, belum lama ini.

Baca juga: Update Terbaru Bencana Tanah Longsor di Selangor Malaysia, 21 Tewas, 12 Masih Hilang

Metiyem yang beranggotakan Dio Brevi Fonda (kecapi Kalimantan), Reni Wiritanaya (vokalis), Yuanda Firmansyah (rapa'i), Aryapandu (suling bambu, flute), Rosa Virginia (keyboard), Febri Yusnando (siter, karinding), Tri Atmaja (bass), Imam Kurnia (gendang, suling), dan Muslim (dambus & sape) membawakan tiga lagu.

Ketiga lagu ini merupakan sebuah implementasi dari beberapa pola dasar etnis yang berasal dari daerah instrumen tersebut, yang coba dielaborasikan secara harmonis dengan komposisi seindah mungkin tanpa menghilangkan keaslian dari masing-masing instrumen.

"Tiga lagu yang kami bawakan memiliki corak yang berbeda. Melalui tiga lagu ini, kami memberikan suatu pengenalan alat-alat musik dari Sulawesi, Aceh, Bangka Belitung, Jawa, dan Kalimantan Tengah," papar Dio Brevi.

"Metiyem ini berangkat dari kekhawatiran kami sebab anak-anak muda semakin sedikit yang mengenal bahkan memperdalam musik-musik etnik. Mungkin kalau di Jawa masih oke-oke saja, karena ada banyak sekolah seni. Tapi kami ingin mengenalkan musik-musik etnik dari berbagai daerah, menjadi satu dalam sebuah musik yang harmonis. Jadi tidak hanya membawa musik Jawa, tapi kami ingin menyatukan musik Nusantara," lanjutnya.

"Musik saja bisa harmonis, apalagi kita manusia yang berbeda-beda adat tidak bisa harmonis. Itu poin kami," tambahnya.

Ketiga lagu yang dibawakan Metiyem yakni Nyujur Sunia Loka, Tanoh Serge dan Sin Ming.

"Nyujur Sunia Loka berarti menuju keabadian. Kami gambarkan lewat musik-musik etnik dengan interpretasi ketika kita menuju keabadian, kita berjalan menuju kehampaan, mendapatkan aurora penuh warna yang mencerminkan perilaku ketika kita hidup," terangnya.

Sedangkan Tanoh Serge merupakan komposisi musik yang diangkat dari Aceh, lebih spesifiknya daerah Gayo.

"Kami mengkomposisikan lagu ini berdasarkan semangat dari Malahayati, seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh yang gigih berjuang melawan penjajah. Itu spirit yang kami ambil," jelasnya.

Baca juga: Spesifikasi dan Harga HP Samsung Galaxy M32 Ada RAM Besar 6GB Harga Rp 2,5 Jutaan

"Tapi di sisi lain, sebagai seorang perempuan, Malahayati ini juga tak lupa dengan tumbuh kembang dari anaknya," tambahnya.

Sedangkan lagu ketiga yakni Sin Ming, merupakan lagu yang teranyar dibuat oleh Metiyem. Lagu ini bercerita soal tindakan keseimbangan dari tindakan-tindakan yang dilakukan manusia.

"Kami berusaha terus melestarikan dan mensyiarkan musik-musik etnik ini, tidak hanya memainkan musiknya, tidak hanya memainkan musiknya yang harmonis, tapi kami juga harus memberikan nilai-nilai tentang pendidikan, nilai budaya, dari satu komposisi musik ini," pungkasnya. (Han)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved