Berita Sleman Hari Ini

PN Sleman Memutus Penetapan Tersangka BYK Kasus Penganiayaan di Holywings Tidak Sah

Pengadilan Negeri (PN) Sleman memutuskan penetapan status tersangka BYK tidak sah.

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Gaya Lufityanti
pixabay.com / succo
Ilustrasi hukum 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pengadilan Negeri (PN) Sleman memutuskan penetapan status tersangka BYK tidak sah.

Hakim memutuskan hasil sidang praperadilan itu berdasarkan pertimbangan di antaranya tidak dilakukannya proses undangan klarifikasi pada tahap penyelidikan kepada terlapor dalam hal ini pemohon.

Selain itu hakim juga mempertimbangkan tidak dilakukannya pemanggilan terhadap calon tersangka kepada pemohon. 

Serta status pemohon atau klien kami yang sudah dalam perlindungan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) yang seharusnya penyidik terlebih dahulu berkoordinasi dengan LPSK sebelum melakukan tuntutan hukum kepada Pemohon.

"Dengan pertimbangan itu, majelis hakim yang dipimpin Aziz Muslim SH sebagai hakim ketua menyatakan penetapan tersangka terhadap pemohon (BYK) tidaklah sah," kata Penasihat Hukum BYK, Duke Arie Widagdo, Rabu (7/12/2022)

Baca juga: Kasus Penganiayaan Di Holywings sampai di Praperadilan, Penasihat Hukum BYK Beberkan Kejanggalan

BYK merupakan korban pengeroyokan oleh warga sipil dan dua oknum anggota kepolisian pada Juni 2022 disebuah kelab malam bernama Holywings Sleman .

Meski sudah dinyatakan sebagai korban dan mendapatkan status terlindung dari LPSK, Polresta Sleman tetap menindaklanjuti kasus ini. 

Dari Polresta Sleman , kasus ini kemudian ditarik ke Polda DIY dan dalam perkembangannya, BYK justru sempat ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Ditreskrimum Polda DIY. 

"Padahal BYK selama ini selalu kooperatif dalam menjalani pemeriksaan atau memberikan keterangan ke pihak kepolisian. Bahkan saat dia masih dirawat di rumah sakitpun, Yoga sudah di-BAP oleh polisi," ungkapnya.

Duke menjelaskan, pasal yang ditersangkakan kepada kliennya pun tidak main-main yaknu Pasal 170 KUHP subsider Pasal 351 ayat (1) KUHP tentang pengeroyokan dan penganiayaan

"Keluarga BYK menduga, ada ketidakadilan dari pihak kepolisian dalam menangani perkara ini. Pihak keluarga memutuskan untuk mengajukan Praperadilan atas penetapan status tersangka kepada BYK," ungkapnya.

Baca juga: Sempat Ditutup oleh Pemkab Sleman, Segel Holywings Kini Dicopot

Dijelaskan Duke, sidang praperadilan dimulai pada Senin, 28 November 2022 di PN Sleman

Pada saat itu, Duke Arie Widagdo menyatakan bahwa sidang praperadilan diajukan karena kuasa hukum menemui kejanggalan dalam penetapan tersangka, sebab BYK adalah korban yang kemudian justru malah ditetapkan sebagai tersangka. 

“Sidang ini kami ajukan karena kami menilai adanya kejanggalan akan penetapan tersangka yang dilayangkan oleh pemohon (BYK), yang mana dalam prosesnya banyak prosedur yang tidak dilakukan”, ujar Duke.  

Saksi ahli yang dihadirkan pada sidang praperadilan kasus BYK dijelaskan Duke yakni, Dr Mudzakkir Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) dan Riyanto Wicaksono, selaku tenaga ahli LPSK.

Berdasarkan paparan Dr. Mudzakkir, dalam penetapan seseorang sebagai tersangka, pihak penyidik harus melalui beberapa tahapan hingga seseorang dapat ditetapkan sebagai tersangka. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved