Berita Kabupaten Magelang Hari Ini

Kain Tenun Sumba Sampaikan Pesan Lestari ke Tanah Jawa

Bagi orang Sumba, tenun merupakan kain sakral yang nilainya dianggap seperti emas.

TRIBUNJOGJA.COM / Nanda Sagita
Seorang pengunjung sedang melihat koleksi kain tenun Sumba dalam Festival Tenun Nusantara, di Candi Borobudur, Kamis (01/12/2022) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Selembar kain tenun Sumba tampak terurai indah dengan motif yang khas ketika dipamerkan dalam Festival Tenun Nusantara di lapangan Aksobya, Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, pada Kamis (01/12/2022).

Festival yang diusung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) RI sebagai simbol untuk menunjukkan pesan lestari lewat kearifan lokal Sumba disandingkan dengan mahakarya Candi Borobudur.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Perfilman, Musik dan Media (PMM) Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ristek RI, Ahmad Mahendra.

"Kami pikir kenapa tenun karena pembuatan tenun itu memiliki banyak proses yang berhubungan dengan alam, keseimbangan alam. Sesuai dengan tema yakni menjaga tradisi budaya untuk bumi lestari. Pesannya bagaimana kita harus menjaga keseimbangan alam ini. Sedangkan, kenapa Borobudur karena itu mahakarya yang bisa disandingkan dan punya nilai di dalamnya  ada reliefnya tenun juga,"ujarnya disela kegiatan Festival Tenun Nusantara, pada Kamis (01/12/2022).

Baca juga: Jadin Kenalkan Karya dan Koleksi Tenun Nusantaranya di Rumahnya

Tak tanggung, dalam festival kain tenun ini turut membawa para mama-mama pembuat tenun asli Sumba .

Di sini, mereka secara langsung mempraktikkan dan memperlihatkan prosesnya kepada para pengunjung.

Bagi orang Sumba, tenun merupakan kain sakral yang nilainya dianggap seperti emas.

Kurator Festival Kain Nusantara, Fidelis Tasman Amat mengatakan, kain tenun sangat  istimewa karena dilihat dari proses pembuatannya.

"Ada 40 proses dalam membuat tenun hingga sempurna. Dilihat dari tingkat kualitasnya itu ada beberapa hal. Pertama, komposisi warna, warna itu sendiri (pilihan warnanya) dia harus dari pewarna asli seperti dari mengkudu. Lalu, kepadatan tenun maupun motif.  Terus juga benang  yang dipakai terutama yang kualitas premium menggunakan  adalah kapas  asli yang dipinta sendiri,"ungkapnya.

Di Sumba sendiri, lanjutnya, ada lima lokasi yang menjadi sentra penghasil tenun terbaik, yakni Kanbera , Kanaktan, Umalulu,  Ridi, dan Kaliuda.

"Pembagian itu berdasarkan kerajaannya jadi kain yang dihasilkan pun berbeda. Dan, tidak semua orang Sumba bisa membuat kain tenun. Misalnya dalam satu rumah ada lima orang palingan yang bisa membuat tenun secara sempurna hanya satu atau dua orang (bakar),"ucapnya.

Sementara itu, bagi Mama  Wanda wanita paruh baya ini kain tenun merupakan penyambung hidup.

"Sudah 30 tahun menenun, itu sejak kecil. Sekarang, sumber penghasilan ya dari sini untuk sekolah anak dan kebutuhan lainnya,"ujarnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved