Berita Kesehatan

Perubahan Iklim Bisa Berdampak pada Konsumsi Gizi di Rumah Tangga

Setiap kenaikan dua derajat celcius suhu bumi, maka akan menurunkan produksi pangan sebesar 30 persen di tahun 2050.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Gaya Lufityanti
SHUTTERSTOCK via kompas.com
Ilustrasi tanaman padi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Perubahan iklim disebut tidak hanya berdampak pada adanya bencana di bumi, tapi juga berefek domino hingga konsumsi gizi di rumah tangga.

Pakar Kesehatan Lingkungan dan Kedokteran Keluarga, Dr. Lily Arsanti Lestari, STP. MP, menjelaskan, dari hasil riset peneliti dunia, setiap kenaikan dua derajat celcius suhu bumi, maka akan menurunkan produksi pangan sebesar 30 persen di tahun 2050.

Dengan data ini, bisa dibayangkan, penduduk yang semakin bertambah justru akan mengalami kekurangan pangan.

Lily menyebut akibat perubahan iklim menyebabkan cuaca yang tidak menentu dan sulit diprediksi. 

Baca juga: Kepala Badan Pangan Nasional: Masyarakat Bisa Berperan Aktif untuk Dorong Produktifitas Pertanian

Saat ini, sulit sekali memprediksi kapan musim hujan kapan dan kapan musim kemarau.

“Ini tentunya menyebabkan kekacauan pola tanam yang semula sudah diprediksi mau menanam di bulan apa, panen di bulan keberapa menjadi kacau sehingga estimasi untuk peyediaan pangan tidak bisa diperkirakan," ucapnya dalam bincang-bincang kesehatan bertajuk ‘Problem Dunia Kesehatan dan Tantangan Masyarakat Masa Depan’, Rabu (30/11/2022).

Dia menjelaskan situasi iklim seperti ini rentan terjadi gagal panen yang berujung pada terhambatnya penyediaan pangan. 

Ketersediaan pangan pun berkurang akibatnya asupan konsumsi di level rumah tangga atau keluarga juga akan berkurang.

“Sekarang ini mungkin karena krisis juga ya, orang mengkonsumsi makanan tidak begitu memperhatikan aspek gizinya tetapi yang penting kenyang sehingga beberapa kebutuhan protein akan berkurang. Begitu pula zat-zat gizi lain juga menjadi tidak optimal," imbuhnya.

Sebelumnya, Dekan Fakultas Pertanian UGM , Ir. Jaka Widada, MP., Ph.D., menyebut bahwa bencana kelaparan sebagaimana yang diprediksi organisasi pangan dunia FAO akan terjadi di tahun 2050 adalah ancaman riil bagi dunia, termasuk bagi Indonesia. 

Kondisi ini salah satunya dipicu oleh pertambahan jumlah penduduk dunia yang akan mencapai angka sepuluh miliar di tahun tersebut.

“Jumlah penduduk dunia akan menembus sepuluh miliar. Akan terjadi kelaparan luar biasa manakala produksi pangan tidak naik sebesar 70 persen dari sekarang. Dan ini bukan hal yang mudah karena dampak perubahan iklim juga sangat berpengaruh,” ucapnya pada acara Pojok Bulaksumur yang diselenggarakan di Gedung Pusat UGM , Selasa (29/11/2022).

Menurutnya, ada tiga negara yang telah siap menghadapi ancaman krisis pangan, yaitu China, Israel, dan Belanda. 

Baca juga: Cegah Malnutrisi, PKGM FK-KMK UGM Ajari Ibu-ibu Kalurahan Sitimulyo Masak Bahan Pangan Lokal

China sudah bisa membuat benih padi yang produksinya dua kali lipat lebih banyak, sedangkan Belanda dan Israel telah mengimplementasikan teknologi yang mumpuni untuk meningkatkan produksi komoditas pertanian.

“Ethiopia dulu adalah negara dengan banyak kelaparan, sekarang setelah Israel masuk ke situ menjadi sumber pangan nomor tujuh di dunia karena teknologi dari Israel,” paparnya.

Ancaman perubahan iklim dan krisis pangan, ujarnya, memang belum terlalu terlihat di Indonesia, karena ketersediaan sumber daya alam masih cukup melimpah dan kondisi geografis Indonesia yang memungkinkan produksi pertanian tetap berjalan sepanjang tahun. 

Akibatnya, pemborosan atau penggunaan sumber daya secara kurang efisien masih terjadi dalam banyak aspek, termasuk di sektor pertanian.

“Di Indonesia pemborosannya luar biasa karena merasa air tidak harus dibeli, tapi ke depan ancamannya akan luar biasa. UGM perlu melakukan edukasi untuk pelan-pelan menyadarkan tentang perubahan iklim,” kata Jaka. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved