Berita Bantul Hari Ini

KNKT Paparkan Hasil Investigasi Kecelakaan Bukit Bego Bantul

Komite Nasional Keselamatan Transportasi ( KNKT ) menemukan sejumlah faktor penyebab kecelakaan di Bukit Bego , Kabupaten Bantul .

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Miftahul Huda
Bus pariwisata terlibat kecelakaan di Jalan Imogiri-Mangunan, tepatnya di bawah Bukit Bego, Imogiri Bantul, Minggu (6/2/2022) siang. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Komite Nasional Keselamatan Transportasi ( KNKT ) menemukan sejumlah faktor penyebab kecelakaan di Bukit Bego , Kabupaten Bantul .

Pelaksana Tugas Kepala Subkomite Moda Investigasi Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) KNKT, Ahmad Wildan menuturkan Jalan Bukit Bego , Karang Kulon Wukirsari, berada di Kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul

Jalan tersebut masuk jalan provinsi yang merupakan kolektor primer jalan Kelas 3, yang berarti panjang maksimal 9 meter dan lebar maksimal 2,1 meter.

Karakteristik jalan kolektor primer adalah kecepatan paling rendah adalah 40 km per jam untuk desain speed-nya. 

Kemudian lebar minimal adalah 9 meter dengan akses terbatas, itu kondisi ideal yang sesuai dengan regulasinya.

Baca juga: Kasus Laka Lantas Selama September 2022 di Kabupaten Bantul Meningkat Dibanding Agustus 2022

“Kemudian desain penampang melintangnya adalah idealnya 2 jalur, 2 lajur, 2 arah. Seharusnya idealnya 2 jalur 4 lajur 2 arah. Namun di jalan ini adalah 2 jalur, 2 lajur, 2 arah tanpa media dengan lebar bervariasi antara 6 sampai 7 meter,” tutur Wildan di The Rich Hotel Jogja, Rabu (30/11/2022).

Dia menambahkan, dari segi geometrik pihaknya mencatat sepanjang kurang lebih 1,15 kilometer dengan alignment vertikal rata-rata dalam 13,5 persen negatif.

Kemudian pada saat mendekati jalan menurun pada titik lokasi gradiennya mencapai 16 persen negatif.

Terkait alignment horizontalnya diwarnai dengan beberapa tikungan patah dan tikungan ganda. 

"Sehingga di jalan tersebut secara tiga elemen geometrik kondisinya substandar. Pertama penampang melintang jalannya, kedua allignment vertikalnya yang sebenarnya untuk jalan berbukit ini maksimal 8 persen," ujarnya.

Selain dari segi jalan yang masuk dalam kategori Substandar dengan kerawanan laka yang tinggi, dia juga menyebut ada faktor human error yang mengakibatkan jalur bukit Bego menjadi terlihat sangat berbahaya.

Dia menyebut dari sisi fasilitas kendaraan, pemerintah memberikan batasan operasional bus yakni maksimal 10 tahun.

Kebijakan itu menurut KNKT perlu dikaji ulang sebab beberapa pengusaha justru membeli bus yang berumur 10 tahun, yang semestinya sudah masuk kategori bus rongsok.

Setelah dibeli, bus masuk kategori rongsok itu dioperasikan kembali.

Baca juga: Analisis KNKT soal Kecelakaan Bus di Bukit Bego Bantul: Human Error, Sopir Turun dengan Persneling 3

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved