Berita Kriminal Hari Ini

Pemuda Asal Bantul Ngaku Jadi Korban Kejahatan Jalanan, Nyatanya Terkena Sabit saat Cari Rumput

Pelaku mengaku menyebarkan berita tersebut kepada teman-temannya dengan motif untuk memberi peringatan agar selalu waspada.

Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
Jajaran Polsek Sanden melaksanakan klarifikasi tentang berita Hoax yang menyebar di masyarakat, Jumat (25/11/2022) 

TRIBUNJOGJA.COM - Seorang pemuda di Sanden Bantul , mengaku menjadi korban kejahatan jalanan.

Informasi tersebut pun viral di Whatsapp.

Padahal yang bersangkutan terluka terkena sabit saat mencari rumput dan terkena pecahan kaca karena bertengkar dengan pacarnya.

Kasi Humas Polres Bantul , I Nengah Jeffry Prana Widyana, saat dikonfirmasi mewakili Kapolres AKBP Ihsan mengungkapkan, seorang pemuda berinisial RK yang telah mengaku menjadi korban kejahatan jalanan .

Bahkan, pengakuannya itu menjadi viral setelah disebarluaskan oleh S (34) dan AN (38) di grup WhatsApp.

Baca juga: Kapolda DIY Irjen Suwondo Nainggolan Pimpin Rakor Penanggulangan Kejahatan Jalanan, Ini Pesannya

S dan AN yang merupakan warga Kapanewon Sanden Bantul menulis narasi di grup WhatsApp, apabila RK telah menjadi korban kejahatan jalanan di Jalan Samas-Parangtritis tepatnya di sebelah timur Jembatan Merah Srigading Sanden Bantul .
 
Mengetahui berita viral tersebut, Unit Reskrim Polsek Sanden Polres Bantul langsung melakukan cek Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan meminta keterangan saksi di sekitar TKP.

"Namun tidak ada saksi yang melihat atau mendengar tentang adanya kejadian tersebut di lokasi," ujarnya Sabtu (26/11/2022).

Selain itu, petugas juga melakukan pemeriksaan menghadirkan korban dan penyebar berita tersebut, yakni S dan AN.

Setelah dilakukan interograsi lebih lanjut, akhirnya RK mengakui dirinya telah berbohong.

"Akhirnya yang bersangkutan mengakui bahwa cerita tersebut bohong, yang benar bahwa luka pada tangan kanannya disebabkan karena terkena sabit saat mencari rumput dan terkena pecahan kaca karena bertengkar dengan pacarnya,” imbuhnya.

Oleh petugas, ketiganya pun diminta untuk membuat video klarifikasi yang sebenarnya menyebarkan kepada warga yang lain.

Sementara AN mengaku menyebarkan berita tersebut kepada teman-temannya dengan motif untuk memberi peringatan agar selalu waspada.

Baca juga: Tekan Kejahatan Jalanan, Polres Bantul Masuk ke Sekolah dan Patroli di Ringroad 

Namun demikian, hal itu tidak dibenarkan, karena sama saja menyebarkan berita bohong atau yang saat ini disebut hoax.

“Kami mengimbau kepada warga masyarakat, agar tidak mudah menyebarkan berita yang belum pasti kebenarannya. Selalu saring sebelum sharing,” ucap Jeffry.

Pelaku penyebar hoax, lanjut Jeffry, dapat dijerat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik disingkat UU ITE.

“Ancaman hukumannya juga tidak main-main, ancaman pidana paling lama enam tahun atau denda paling banyak sebesar satu  miliar rupiah. Masih mau sebar hoax?” pungkasnya.( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved