Berita DI Yogyakarta Hari Ini

Apoteker di Yogyakarta Edukasi Masyarakat tentang Pencegahan Resistensi Antimikroba

Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) DIY melakukan kampanye kesadaran dan pemahaman tentang resistensi antimikroba kepada masyarakat di kawasan Tugu Jogja.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Ardhike Indah
Kampanye apoteker di DI Yogyakarta tentang bahaya resistensi antimikroba dalam rangka memperingati Pekan Kesadaran Antimikroba Dunia yang berlangsung setiap 18-24 November. Kampanye dilakukan di kawasan Tugu Jogja, Sabtu (19/11/2022). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM - Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) DIY melakukan kampanye kesadaran dan pemahaman tentang resistensi antimikroba kepada masyarakat di kawasan Tugu Jogja , Sabtu (19/11/2022) .

Aksi tersebut merupakan bagian dari World Antibiotic Awareness Week (WAAW) atau Pekan Kesadaran Antimikroba Dunia yang jatuh pada minggu 18-24 November.

Ketua Pengurus Daerah (PD) IAI DIY, Hendy Ristiono mengatakan, tema yang diangkat pada Pekan Kesadaran Antimikroba Dunia 2022 ini adalah ‘Preventing Antimicrobial Resistance Together’.

Maknanya adalah mengajak semua pihak untuk peduli dan mengambil tindakan mencegah resistensi antimikroba bersama-sama.

Resistensi antimikroba sendiri adalah suatu kondisi bakteri yang sudah kebal dengan pengobatan antibiotik.

Baca juga: Ikatan Apoteker di Sleman Gelar Konfercab Empat Tahunan, Komitmen Eliminasi Tuberkulosis

“Kampanye ini juga sebagai simbol. Jadi, para apoteker yang sudah dibentuk kelompok, akan ada di tempat masing-masing dan membagikan selebaran, mengangkat poster dan pastinya mengedukasi pengendara di kawasan Tugu ini tentang resistensi antimikroba,” ujarnya ketika ditemui di sela-sela agenda.

IAI DIY tidak sendiri, tapi juga mengundang Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) DIY, perguruan tinggi farmasi se-DIY dan organisasi lain yang peduli terhadap pencegahan resistensi antimikroba.

Menurut Hendy, kampanye ini tidak bisa dilakukan oleh pihaknya sendiri. Seluruh sektor yang bersinggungan dengan kefarmasian dan penggunaannya harus terlibat.

Sebab, ini menjadi masalah bersama dan bisa membahayakan masyarakat.

"Kalau bakteri sudah resisten tidak bisa diberikan antibiotik yang sama, harus diberikan dengan antibiotik yang grade atau jenis yang lain. Ini kan jadi berbahaya untuk tubuh,” ujarnya.

Dari situ, ada konsensus bersama organisasi profesi kesehatan tentang komitmen penggunaan antibiotik yang rasional.

Hendy menjelaskan penggunaan antibiotik secara rasional itu berdasarkan dari diagnosis yang tepat dan dosisnya.

"Kami para apoteker juga sudah sepakat tidak menyerahkan antibiotik tanpa resep," katanya.

Ia berpesan kepada masyarakat untuk bijak mengonsumsi obat antimikroba, harus disertai resep dokter, ikuti petunjuk dan aturan pakai dan minumlah sampai habis.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved