Pemilu 2024

Puluhan Warga Jogja Gelar Aksi Damai di Titik Nol Kilometer untuk Tolak Politik Identitas

Puluhan warga masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Tolak Politik Identitas (SIKATLINDAS) menggelar aksi damai di kawasan Titik Nol Kilometer

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/Azka Ramadhan
Aksi damai tolak politik identitas yang berlangsung di kawasan Titik Nol Kilometer, Kota Yogyakarta, Rabu (16/11/2022) siang. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Puluhan warga masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Tolak Politik Identitas (SIKATLINDAS) menggelar aksi damai di kawasan Titik Nol Kilometer, Kota Yogyakarta, Rabu (16/11/2022) siang.

Dalam kesempatan tersebut, mereka mengajak seluruh lapisan untuk bersama-sama mengantisipasi potensi perpecahan akibat Pemilu 2024 mendatang.

Korlap Aksi, Agung Bondok, menyampaikan, kegiatan yang diikuti berbagai elemen, mulai dari mahasiswa, hingga aktivis sosial dan budaya tersebut, merupakan respons atas dinamika perpolitikan tanah air.

Baca juga: Pemkab Sleman Targetkan Proses Revitalisasi Padukuhan Mrican Sleman Pada Awal 2022

Dirinya menyebut, sejauh ini, para elite politik tampak mulai 'cek ombak' untuk persiapan pesta demokrasi, yang membuat kondisi akar rumput ikut bergojolak.

"Istilahnya sudah pemanasan. Kita sama sekali tidak ingin menghalang-halangi siapapun untuk maju jadi calon presiden. Tapi, kita ingatkan, supaya tidak ada praktek politik identitas, atau politisasi agama, dalam proses berdemokrasi ke depan," ucap Agung.

Karena itu, pihaknya pun membungkus aksi yang berlangsung di tengah guyuran hujan deras tersebut, dengan nuansa kebudayaan, sebagai simbol kesatuan dan persatuan warga.

Beberapa peserta aksi terlihat mengenakan pakaian surjan khas Yogyakarta, dan membaur bersama puluhan mahasiswa, ataupun pemuda, yang berasal dari berbagai daerah.

"Sehingga, kami berharap, Pemilu ke depan dapat berjalan damai, jauh dari propaganda, serta sentimen yang menggiring pada kebencian dan adu domba. Kita tidak ingin masyarakat terpecah," tandasnya.

Baca juga: Dua Warga Sukoharjo Diamankan Polisi Terkait Kasus Pembunuhan Wanita Muda Asal Purworejo

Terlebih, selama ini, kerukunan antar warga, tanpa melihat latar belakang suku dan agama, benar-benar terwujud di Yogyakarta, yang membuat predikat city of tolerance melekat erat.

Ia mengaku tidak ingin, citra apik yang telah disandang lama tersebut terkikis oleh perpecahan akibat sentimen politik l, yang menggiring pada kebencian antar golongan masyarakat.

"Kita harus bersama-sama menjaga marwah Yogya sebagai city of tolerance. Jangan sampai Yogya harus ternodai oleh sentimen-sentimen sempit yang malah berdampak perpecahan," ungkapnya. (aka)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved