Berita Bisnis Terkini

Tak Terpengaruh Lonjakan Covid-19, Reservasi Hotel di Jogja Sentuh 80 Persen di Akhir Tahun

Kenaikan kasus Covid-19 yang terjadi di Yogya jelang libur Natal dan tahun baru diyakini tidak menurunkan antusiasme para pelancong untuk berkunjung.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Gaya Lufityanti
Pixabay.com / Ming Dai
ilustrasi hotel 

TRIBUNJOGJA.COM - Kenaikan kasus Covid-19 yang terjadi di Yogyakarta jelang libur Natal dan tahun baru diyakini tidak menurunkan antusiasme para pelancong untuk berkunjung.

Benar saja, kurang dari dua bulan menjelang libur panjang, tingkat reservasi hotel di Yogyakarta telah menyentuh 80 persen.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia ( PHRI ) DIY, Deddy Pranowo Eryono menuturkan, angka 80 persen itu merupakan rata-rata reservasi dari hotel berbintang, serta non bintang.

Di tengah peningkatan kasus Covid-19 akhir-akhir ini, ia pun menegaskan, belum ada indikasi pembatalan dari turis.

Baca juga: Begini Penolakan PHRI Sleman Soal Pasangan Belum Muhrim Dilarang Check In di Hotel

"Belum ada pengaruhnya reservasi dengan kenaikan kasus Covid-19 ini, masih tetap jalan. Belum ada yang cancel juga," cetusnya, Kamis (10/11/2022).

Bahkan, sebaran turis dalam memilih penginapan pun semakin merata, meski wilayah tengah masih sangat mendominasi.

Deddy meyakini, dengan tren yang terus membaik, bukan tidak mungkin, grafik okupansi akan semakin melonjak, lantaran masih ada waktu yang cukup panjang menjelang libur Nataru.

"Trennya memang seperti itu (naik), dan saya bisa mengatakan bahwa jumlah kasus Covid-19 yang saat ini meningkat, tidak mempengaruhi jumlah reservasi perhotelan di Yogyakarta," ungkapnya.

"Sekarang kita lihat, hotel-hotel di wilayah barat itu ramai, melebihi wilayah timur. Kalau tengah dan utara (ramai) kan biasa. Ada perubahan paradigma juga, karena faktor bandara," tambah Deddy.

Meski demikian, PHRI tetap mengimbau pada seluruh anggotanya, supaya tetap mewaspadai potensi kasus Covid-19 yang bisa melonjak sewaktu-waktu.

Yakni, dengan menerapkan standar protokol kesehatan yang lebih ketat.

Dengan begitu, sektor kesehatan serta perekonomian bisa sama-sama terjaga.

Baca juga: PHRI DIY Khawatir, RKUHP Tentang Larangan Check In Bukan Pasutri Pengaruhi Okupansi Turis Asing

"Jangan sampai lonjakan ini berpengaruh dengan perekonomian kita. Kita jalan dengan prokes dan tetap ekonomi jalan, tetap menjaga kesehatan. Kesehatan jalan, untuk menjaga ekonomi," urainya.

Akan tetapi, Deddy meyakini, para pengelola hotel di Yogyakarta sudah sangat berpengalaman meghadapi lonjakan kasus Covid-19 yang seringkali terjadi dalam kurun dua tahun terakhir.

Menurutnya, pukulan telak yang dirasakan selama puncak gelombang corona silam jadi pelajaran berharga bagi PHRI .

"Kita kan tidak mau ndeprok lagi, karena efek dominonya sangat luas. Kita optimis lah, naiknya kasus Covid-19 sudah biasa bagi pelaku pariwisata, yang penting jangan menyepelekan," tegasnya. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved