Berita Kota Yogya Hari Ini

Toko Berjejaring di Kota Yogyakarta Bakal Dilarang Sediakan Kantong Plastik

Pemkot Yogyakarta mempersiapkan sebuah regulasi untuk menekan pembuangan sampah menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/Azka Ramadhan
Tumpukan sampah di salah satu tempat pembuangan sementara di Kota Yogyakarta saat TPA Piyungan kembali bermasalah, beberapa waktu lalu. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemkot Yogyakarta mempersiapkan sebuah regulasi untuk menekan pembuangan sampah menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan.

Lewat aturan yang bakal digodog tersebut, toko-toko berjejaring kedepannya akan dilarang menyediakan kantong plastik untuk para pelanggan.

Penjabat Wali Kota Yogyakarta, Sumadi menuturkan, regulasi itu mutlak diperlukan, mengingat keberadaan sampah anorganik yang seiring waktu terus melonjak jumlahnya, membuat kondisi TPA Piyungan semakin parah.

Baca juga: Prediksi Formasi AC MILAN vs RB SALZBURG: Origi dan Gabbia Minggir Dulu, Giroud dan Kjaer Starter

Oleh sebab itu, upaya penekanan sedari hulu wajib dilakukan oleh Pemkot Yogyakarta.

"Ya, kita akan melakukan langkah-langkah. Termasuk membuat regulasi. Kalau perlu, toko berjejaring tidak memakai kantong plastik yang berpotensi menambah sampah anorganik, ya," tandas Sumadi.

Sebagai informasi, sejauh ini, Kota Yogyakarta masih menjadi penyumbang pembuangan terbesar di TPA Piyungan, dimana per hari terdapat sekitar 350 ton sampah yang diproduksi.

Karena itu, Sumadi pun tak menutup peluang, larangan penyediaan kantong plastik akan diterapkan suatu hari nanti.

"Jadi, pembeli pun kita dorong untuk membawa tas belanja sendiri dari rumah, supaya tidak bergantung lagi dengan kantong plastik," cetusnya.

Baca juga: Dinsos Purworejo Resmikan Puskesos sebagai Upaya Tingkatkan Bansos Tepat Sasaran

Sebab, ketika hal-hal yang cenderung tidak ramah lingkungan seperti itu masih dijumpai, permasalahan sampah di Kota Yogyakarta tidak akan terselesaikan sepenuhnya.

Dalam artian, problem sewaktu-waktu bisa muncul, ketika TPA Piyungan bermasalah, meski saat ini zona transisi telah dioperasikan.

"Tapi, ujungnya itu akan penuh lagi, kalau tidak ada upaya pengelolaan dari hulu. Makanya, kami berusaha melakukan edukasi dan langkah-langkah lain, salah satunya lewat regulasi," jelasnya. (aka)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved