Berita Magelang Hari Ini

Bangunan Jembatan Penghubung Antardesa Gulon-Gunungpring Magelang Miring Akibat Tergerus Banjir

Jembatan yang berada di Dusun Gunungsari, Desa Gulon, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang ini melintang di atas Sungai Blongkeng.

Tribun Jogja/Nanda Sagita Ginting
Warga melintasi jembatan penghubung antardesa Gulon-Gunungpring Magelang yang sudah ditutupi sasak bambu, pada Jumat (14/10/2022). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Bangunan jembatan penghubung antar Desa Gulon, Kecamatan Salam dan Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang dalam kondisi miring.

Kondisi tersebut disinyalir akibat tergerus banjir sungai.

Jembatan yang berada di Dusun Gunungsari, Desa Gulon, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang ini melintang di atas Sungai Blongkeng.

Kepala Dusun Gunungsari, Desa Gulon, Sudarsono, mengatakan kondisi itu terjadi setelah dilakukan pengecoran sekitar sebulan lalu, tepatnya September 2022.

"Pengecoran dapat dari Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku). Sudah dicor selesai, jangka dua minggu terkena banjir tergerus tiangnya (penyangga) yang di bawah jadi miring. Sedangkan, jembatan bagian atas (yang untuk dilewati) melengkung," ujarnya saat ditemui di rumahnya pada Jumat (14/10/2022).

Kondisi jembatan yang miring dan melengkung itu membuatnya berbahaya untuk dilewati.

Wargapun berinisiatif memasang sasak bambu agar jembatan bisa digunakan lagi untuk sementara waktu.

"Itu menjelang beberapa, hari kami inisiatif dari masyarakat membuat sesek sepanjang 19 meter untuk alternatif. Pertama,  untuk pendidikan karena akses sekolah dari dua kecamatan banyak. Lalu, juga untuk kebutuhan ekonomi karena ibu-ibu banyaknya mencari bumbu ke Pasar Muntilan. Kalau mau mutar  jaraknya bisa dari sini ke Pasar Muntilan misalnya hampir lima kilometer,"ujarnya.

Sebagai upaya keamanan ketika dilintasi masyarakat, kata dia, jembatan turut dilengkapi dengan beberapa orang  warga untuk  berjaga. Penjagaan dilakukan mulai dari pagi  sampai malam hari.

"Warga sini (yang menjaga), itu dari partisipasi masyarakat dijaga sampai malam soalnya seperti musim penghujan itu dijaga sampai jam 10-11 malam. Untuk orang yang mau ke pasar kalau pemantauan dari lampu terus ada,"tuturnya.

Ia menceritakan, dulunya jembatan memang dibangun atas swadaya masyarakat memakai sasak bambu sekitar tahun 2012.

Lalu, dilakukan pembangunan kembali pada tahun 2017 oleh swadaya masyarakat dan Pemerintah Desa (Pemdes).

"Kalau jembatan sebelumnya, jembatan swadaya. Dalam arti, pertama itu cuma terbuat dari sesek (Sasak bambu). Lama kelamaan terus dibantu masyarakat dan Pemerintah Desa menjadi jalan  alternatif yang menghubungkan Kecamatan Salam, Desa Gulon, Dusun Gunungsari sama Kecamatan Muntilan, Desa Gunungpring, Dusun Ngadisalam,"terangnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved