Anggota Polisi Berpangkat Briptu Ribut dengan Tetangga Soal Urusan Buah Mangga, Ini Kronologinya
Briptu Ns diduga melontarkan makian dan ancaman serta terdengar suara letusan seperti tembakan senjata api. Tetangga lapor polisi
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM - Keributan dan cekcok terjadi antara anggota polisi, Briptu NS dan keluarganya dengan tetangga dekat di di Nunukan, Kalimantan Utara.
Keributan yang diawali masalah buah mangga itu berujung laporan polisi. Briptu Ns dilaporkan oleh tetangganya.
Pasalnya, Briptu Ns diduga melontarkan makian dan ancaman serta terdengar suara letusan seperti tembakan senjata api.
Tribun Jogja mengutip laporan kompas.com, Polisi berinisial Briptu NS ini sempat mengeluarkan perkataan bernada ancaman terkait pembunuhan.
Anggota Polres Nunukan ini pun dilaporkan oleh tetangganya, Bambang Suhardiyanto ke kantor polisi.
Kronologi
Bambang mengatakan, peristiwa terjadi pada Jumat minggu lalu sekitar pukul 18.00 Wita. Pohon mangga milik keluarga NS tumbuh menjorok ke halaman rumah keluarga Bambang.
"Pohon mangga keluarga NS yang merupakan tetangga kami menjorok ke rumah dan ada buahnya yang ibu saya ambil," kata dia, Senin dikutip dari Kompas.com.
Mertua NS yakni ibu H yang melihat ada buah mangganya telah diambil tidak terima kemudian menegur dengan kalimat kasar.
Saat cekcok terjadi, anak perempuan H juga ikut terlibat hingga terjadilah saling memaki antartetangga.
Ancaman pembunuhan
Tak lama kemudian NS pun datang membuat suasana semakin memanas. Sambil menuju ke arah Bambang, NS meminta agar memperhatikan wajahnya dan menegaskan bahwa dirinya adalah polisi.
"Dia bilang ‘Kamu lihat muka saya betul betul. Saya Polisi, jangan ganggu istri saya. Saya tidak peduli, biar kau lapor ke Polres, saya tidak takut’,’’ ujar dia.
Tak berhenti sampai di situ, Briptu NS bahkan berteriak akan membunuh seluruh keluarga Bambang.
‘’Dia ditarik istrinya, tapi masih tidak terima dan terus berteriak ‘ndak lama saya bunuh kamu satu satu, ndak lama saya bunuh semua satu keluarga,’’ ucap dia.
Belum selesai kejadian itu, lalu datang lagi iparnya berinisial DM, yang juga berteriak dan menghina ibu Bambang dengan kalimat tidak pantas.
‘’Ibu saya mengatakan, sudahlah, mereka keluarga Polisi. Kita mengalah saja. Kami akhirnya diam saja meski dikatain idiot, apa segala macam. Saya juga cuman pegawai honorer di DLH,’’ jelas dia.
Suara letusan
Setelah keluarga NS masuk ke rumahnya, Bambang mendengar dari sebelah rumah suara semacam letusan pistol.
Saat itu juga terdengar mertua NS, menasehati agar tidak bermain-main dengan senjata karena itu berbahaya.
"Kami sempat terkejut mendengar suara semacam tembakan. Suaranya dari rumah NS, kan kami bersebelahan rumah, bertetangga. Jaraknya sekitar enam meteran saja. Karena keadaan sudah menjadi begini, makanya kami memilih lapor ke Polisi saja,’’ kata dia.
Usai kejadian itu, Bambang akhirnya melaporkan perkara tersebut ke Polres Nunukan.
Laporkan kasus
Saat dikonfirmasi, Kasat Reskrim Porlres Nunukan, Iptu Lusgi Simanungkalit membenarkan laporan kasus tersebut.
‘’Sementara masih diproses. Jadi laporannya ada yang ke Reskrim, ada juga yang ke Propam,’’ kata dia.
Menurut dia, kasus tersebut merupakan persoalan yang sepele.
Sebab, kalimat-kalimat kasar saat cekcok terjadi antartetangga itu terlontar tanpa kontrol akibat emosi kedua belah pihak.
Untuk itu, pihaknya berencana akan menengahi kedua belah pihak agar berdamai.
‘’Ada rencana mereka kita pertemukan untuk perdamaian. Kita coba tengahi karena apa pun alasannya, kalimat-kalimat emosional yang terlontar saat cekcok, kadang menjadi penyesalan. Apalagi mereka bertetangga,’’ ujar dia.
Laporan kasus tercatat dalam Surat Keterangan Laporan Pengaduan Nomor : STTP/174/IX/2022/Reskrim, ditanda tangani bagian piket Reskrim Polres Nunukan, Briptu Miswandi SH, pada 30 September 2022.
Artikel tayang di Kompas.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/cerita-sopir-truk-jadi-korban-pungli-oknum-polisi-aku-kena-tilang-tapi-dimintai-bawang-satu-karung.jpg)