Berita Jogja Hari Ini

BUNTUT Dugaan Intimidasi Wali Murid SMA, Ditreskrimsus Polda DIY Selidiki Pengadaan Seragam

Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda DIY juga bergerak melakukan penyelidikan soal pengadaan seragam di SMAN 1 Wates

Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM/ Ahmad Syarifudin
Kabidhumas Polda DIY Kombes Pol Yuliyanto saat konferensi pers di Mapolda DIY 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Setelah Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda DIY menyelidiki laporan dugaan intimidasi dan penyekapan terhadap satu wali murid SMAN 1 Wates, kali ini jajaran Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda DIY juga bergerak melakukan penyelidikan soal pengadaan seragam di sekolah tersebut.

Pengadaan seragam inilah yang menjadi sebab terjadinya dugaan intimidasi tersebut.

"Ditkrimsus melakukan analisis pemberitaan di media tentang pengadaan seragam di SMAN 1 Wates. Sebagai bagian dari Tim (Satgas) Saber Pungli (Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar) DIY, maka Ditkrimsus (Ditreskrimsus Polda DIY) melakukan penyelidikan," jelas Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda DIY, Kombes Pol Yuliyanto ketika dikonfirmasi, Selasa (4/10).

Nantinya, jika hasil penyelidikan sudah dirasa cukup, maka akan dilakukan gelar perkara untuk menentukan, apakah peristiwa pengadaan seragam yang ada di sekolah tersebut melanggar aturan perundang-undangan yang berlaku atau tidak.

Diketahui, penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana.

Menurut Yuli, mencari keterangan dalam proses penyelidikan itu bisa dilakukan dengan beragam cara. "Penyelidikan itu mencari keterangan, bisa membaca, bisa menelepon, bisa menemui dan lain-lain," jelasnya.

Persoalan pengadaan seragam ini mencuat setelah seorang wali murid melaporkan dugaan intimadasi dan penyekapan yang terjadi pada Kamis (29/9).

Pelapor adalah Agung Purnomo, pegawai di Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) Kulon Progo.

Agung bersama sejumlah wali murid aktif mempertanyakan soal pengadaan seragam di sekolah yang harganya dinilai tidak sebanding dengan kualitas.

Bermula dari komplain

Tribun Jogja mendapat kesempatan mewawancarai dua orang wali murid dari SMAN 1 Wates, yang menceritakan bagaimana awal mula adanya laporan jual beli seragam tersebut ke Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakikan DIY.

“Awal mula ini karena kami kecewa. Ada satu teman kami yang komplain celana anaknya terkena knalpot. Terus, dia lapor ke Paguyuban Orang Tua (POT) dan POT mengajak dia untuk ke toko, mengganti kain yang kena knalpot itu,” ujar Z, seorang wali murid, saat ditemui di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta, Senin (3/10).

Z meminta agar namanya diinisial dan identitasnya disamarkan dengan pertimbangan keamanan. Z sendiri sudah membeli kain seragam dari POT dan merasa kecewa dengan kualitas kain yang tidak sepadan dengan harga. Dia membeli dengan harga lebih kurang Rp1,7 juta dengan biaya jahit sekitar Rp700 ribu.

Maka, beberapa dari mereka pun komplain ke POT kenapa harga yang dijual mahal, tapi kualitasnya justru jelek dan dirasa tidak layak.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved