Berita Kota Yogya Hari Ini

Terdampak Kenaikan Harga BBM, Tingkat Inflasi Kota Yogyakarta Terus Melonjak

Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) berdampak pada lonjakan tingkat inflasi di Kota Yogyakarta. Peningkatan pun berpotensi bakal bertahan cukup

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/Azka Ramadhan
Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kota Yogyakarta, Kadri Renggono. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) berdampak pada lonjakan tingkat inflasi di Kota Yogyakarta.

Peningkatan pun berpotensi bakal bertahan cukup lama, meski pemerintah, baik pusat atau daerah, sudah melakukan berbagai upaya.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kota Yogyakarta, Kadri Renggono, menyampaikan, tingkat inflasi DIY berdasarkan data terakhir September 2022 berada di angka 6,81 yoy.

Menurutnya, kondisi Kota Yogyakarta setali tiga uang, serta nyaris serupa.

Baca juga: Wabup Gunungkidul Harapkan DPP Terus Fasilitasi Petani untuk Optimalisasi Hasil Panen

"Karena sample-nya di kota semua, Pasar Kranggan, Beringharjo, dan Demangan. Jadi, kalau bicara inflasi, DIY dan Kota sama," terangnya, Selasa (4/10/2022).

Kadri pun tak menampik, meningkatnya angka inflasi tersebut, sangat dipengaruhi oleh lonjakan bandrol BBM.

Di tambah lagi, perubahan harga itu memberi pengaruh yang signifikan pada banderol kebutuhan pokok masyarakat yang kini tersedia di pasaran.

"Jelas (dampak kenaikan harga BBM). Karena itu kan disebabkan administered price, atau komoditas yang harganya diatur pemerintah, ya BBM," cetusnya.

"Dan angka ini kemungkinan memang yang tertinggi sepanjang 2022, BBM jadi penyumbang terbesar. Ini bisa jadi akan bertahan cukup lama. Perkiraannya sampai triwulan pertama 2023," tambah Kadri.

Bukan tanpa alasan, sebentar lagi Kota Yogyakarta bakal menghadapi libur akhir tahun, dimana jumlah wisatawan yang singgah dipastikan semakin banyak, dan bakal mempengaruhi tingkat inflasi. Tapi, Kadri memastikan, angkanya tak akan menembus 7.

"Karena pemerintah pusat dan daerah mengucurkan BLT. Kemudian, indeks investasi masih positif, masih berjalan, kredit juga masih tumbuh," terangnya.

Ia mengungkapkan, kebijakan bantalan sosial ini jelas memberi pengaruh besar dalam upaya menekan inflasi daerah. Sebab, program tersebut membuat warga rentan tidak terbebani dengan kenaikan harga, dan perputaran uang pun bisa tetap bergulir normal.

Baca juga: Pemkot Yogyakarta dan BPD DIY Hadirkan Tebus Murah Sembako, Upaya Pengendalian Inflasi

"Fungsinya untuk menjaga daya beli juga. Sehingga, mereka tetap bisa melakukan kegiatan konsumsi. Karena konsumsi rumah tangga kan menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi kita," ungkapnya.

Kadri pun menandaskan, dalam waktu dekat Pemkot Yogyakarta juga bakal mengucurkan bantuan sosial yang bersumber dari dua persen Dana Transfer Umum (DTU). Ia berujar, langkah itu sudah digodog dalam anggaran perubahan dan diusulkan ke Gubernur.

"Itu kan sudah dihitung, sampai akhir Desember sekitar Rp3,5 miliar. Kita usulkan BLT untuk warga rentan, UMKM dan padat karya. Sekarang kami masih menunggu evaluasi Pak Gubernur," urainya. (aka)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved