Tragedi Kanjuruhan

Kompolnas Dalami Pemberi Perintah Penembakan Gas Air Mata ke Arah Suporter

Komisioner Kompolnas, Albertus Wahyu menyatakan Kapolres Malang saat itu, AKBP Ferli Hidayat tidak memberikan perintah untuk menembakan gas air mata

Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
Twitter @iqbal.adillah
Video yang memperlihatkan Y (25) meminta kepada polisi untuk tidak menembakkan gas air mata. Tetapi justru dibentak dan diusir. 

TRIBUNJOGJA.COM, MALANG - Sebagian besar korban meninggal dalam Tragedi Kanjuruhan Malang lantaran kehabisan oksigen dan terinjak-injak.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjuruhan, Dr Bobby Prabowo seperti yang dikutip dari Kompas.com dalam artikel berjudul "Dirut RSUD Kanjuruhan Ungkap Dugaan Penyebab Suporter Tewas di Stadion: Trauma, Terinjak, Sesak Napas".

"Mungkin karena kekurangan oksigen karena terlalu banyaknya orang-orang yang ada di situ, dan juga mungkin terdampak karena asap. Itu semua kompilasi yang memperberat kondisi," ungkapnya.

Saat terjadi kericuhan di Stadion Kanjuruhan Malang pascalaga Arema FC vs Persebaya Surabaya pada Sabtu (1/10/2022) lalu.

Aparat kepolisian kemudian menembakan gas air mata ke arah suporter, baik yang ada di lapangan maupun di tribun penonton.

Banyaknya asap membuat kondisi di tribun penonton menjadi kacau karena banyak perempuan dan anak-anak yang terjebak.

Lalu siapakah yang memberi perintah untuk menembakan gas air mata ke arah suporter?

Baca juga: Sambut Baik Rekonsiliasi Suporter DIY-Jateng, Presiden Pasoepati: Kita Bangun Rivalitas yang Positif

Dikutip dari Suryamalang.com, Komisioner Kompolnas, Albertus Wahyu menyatakan Kapolres Malang saat itu, AKBP Ferli Hidayat tidak memberikan perintah kepada anggotanya untuk menembakan gas air mata ke arah suporter.

"Kapolres juga tidak memerintahkan menutup pintu atau kunci gerbang tribune stadion. Kami akan ke Stadion Kanjuruhan untuk mengecek itu," ujar Albertus kepada SURYAMALANG.COM, Selasa (4/10/2022).

Meski Kapolres tidak memerintahkan anggotanya menembakan gas air mata, namun petugas yang ada di lapangan ternyata menembakan gas air mata ke arah suporter.

Penembakan gas air mata tersebut dilakukan tanpa ada perintah.

"Tembakan gas air mata itu yang memicu dugaan kericuhan. Kami sedang mendalami itu," paparnya.

Albertus menduga ada polisi yang tidak mematuhi instruksi awal.

"Itulah yang membuat pencopotan Kapolres Malang dan perwira Brimob bertanggung jawab. Kami masih mendalami dugaan pelanggaran instruksi ini," papar Albertus.

Menurutnya, pengamanan pertandingan Arema vs Persebaya melibatkan 2.000 personel.

"Dari jumlah tersebut, 600 orang dari Polres Malang. Sedangkan 1.400 adalah personel gabungan," terangnya.

 

 

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved