Berita Jogja Hari Ini

Mengintip Proses Produksi di Dapur Jamu Ginggang, Minuman Abdi Dalem Pakualaman Yogyakarta

Berada di Jalan Masjid Nomor 32 Kauman, Kelurahan Gunungketur, Kemantren Pakualaman, Kota Yogyakarta, Jamu Ginggang menjadi minuman legendaris di

TRIBUNJOGJA.COM/Neti Istimewa Rukmana
Proses pembuatan berbagai macam jamu di dapur Jamu Ginggang, tepat di Jalan Masjid Nomor 32 Kauman, Kelurahan Gunungketur, Kemantren Pakualaman, Kota Yogyakarta, Senin (26/9/2022). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Berada di Jalan Masjid Nomor 32 Kauman, Kelurahan Gunungketur, Kemantren Pakualaman, Kota Yogyakarta, Jamu Ginggang menjadi minuman legendaris di Kota Yogyakarta yang terus eksis hingga saat ini.

Pasalnya usaha tersebut pertama kali muncul dari seorang tabib di Kadipaten Pakualaman yang bernama Mbah Joyo, pada 1925.

Saat itu, Mbah Joyo mendapatkan mandat untuk membuat minuman tradisional yang berkhasiat untuk Sri Paduka Paku Alam VII. 

Baca juga: Rekrut Panwascam, Bawaslu Kota Yogyakarta Masih Kejar Keterwakilan Perempuan 30 Persen

Oleh karena itu, pada tahun tersebut, Jamu Ginggang belum boleh disajikan untuk masyarakat umum. 

Akan tetapi, pada 1930-an, Mbah Joyo baru diperkenankan untuk menjual Jamu Ginggang kepada masyarakat.

"Ginggang itu artinya genggang atau biar tidak ada jarak. Jadi, kami dimungkinkan untuk berhubungan terus dengan pihak Keraton Yogyakarta," ucap Penerus Generasi Kelima Jamu Ginggang, Rudy Supriyadi (57) kepada Tribunjogja.com, di tempat usahanya, Senin (26/9/2022).

Pasalnya, Keraton Yogyakarta memiliki tiga kebudayaan tradisional yang rutin untuk dilakukan berupa menari, membatik, dan minum jamu.

Sehingga, hingga saat ini, keturunan Keraton Yogyakarta hidup lebih sehat dan memiliki badan yang bagus.

Menurutnya, dengan rutin minum jamu akan mendapatkan beberapa khasiat.

Bagi wanita, masa menopause akan lebih teratur, kesehatan badan akan lebih terjaga, serta menjadikan imunitas tubuh lebih kuat.

"Jadi, bagaimana pun juga, kalau kita sakit terus minum jamu itu tidak bisa langsung sembuh. Cuma, ada satu jamu yang namanya jamu watukan yang berfungsi untuk menyembuhkan penyakit batuk," tuturnya.

Sementara itu, dikatakanya, adanya catatan resep dari pendiri Jamu Ginggang menjadi penting dalam mengolah warung jamu itu.

Baca juga: DIY Dapat Hibah 50 Ribu Tanaman Kopi, Sri Sultan HB X Harapkan Petani Tingkatkan Produktivitas

Sebab, buku catatan resep menjadi poin penting untuk menciptakan rasa dan khasiat yang pas dari generasi ke generasi.

"Sampai sekarang, kami mempertahankan tradisi tersebut. Baik itu pengelolaan hingga pengracikan jamu yang tidak pernah berubah sama sekali dari konsep-konsep dahulu. Pernah kami coba menggunakan alat untuk membuat jamu, tetapi konsumen kami komplain. Katanya tidak enak seperti yang dulu. Maka dari itu kami kembali membuat jamu dengan cara tradisional," pungkas Rudy.

Untuk menikmati sajian tersebut, pengunjung cukup mengeluarkan uang sebesar Rp5.000-Rp28.000 per porsinya.

Harga itu, tergantung jenis, jumlah takaran, hingga khasiatnya. (Nei)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved