Jual Beli Seragam Sekolah

Begini Pengakuan Wali Murid tentang Jual Beli Seragam Sekolah di DI Yogyakarta

Pengakuan seorang Wali Murid dari seorang murid yang sekolah di SMP di Sleman, dia membeli seragam sekolah anaknya di koperasi sekolah.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
dok.istimewa
Ilustrasi seragam sekolah 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Praktik jual beli seragam masih marak dilakukan oleh sejumlah sekolah di DI Yogyakarta.

Pengakuan seorang Wali Murid dari seorang murid yang sekolah di SMP di Sleman, dia membeli seragam sekolah anaknya di koperasi sekolah.

“Istilahnya memang ‘titip koperasi’. Jadi, kami diminta tanda tangan untuk menyetujui bahwa kami tidak terpaksa untuk titip koperasi terkait pembelian seragam anak,” ujar Yani, bukan nama sebenarnya, kepada Tribun Jogja, Senin (26/9/2022).

Baca juga: Polres Bantul Akan Segera Menetapkan Tersangka dalam Kasus Pencabulan dengan Korban Disabilitas

Yani enggan dikutip dengan nama asli. Sebab, dia juga enggan terseret dalam pemberitaan yang baru-baru ini marak terkait sekolah, yakni pungutan liar maupun praktik jual beli seragam

Dengan memanfaatkan program ‘titip koperasi’, Wali Murid akan mendapatkan sekian jumlah kain seragam, badge, lokasi, logo sekolah hingga tag nama seharga kurang lebih Rp 1 juta.

“Kami sudah tidak perlu muter-muter beli seragam lagi. Sudah disediakan dari koperasi itu. Pembelian seragam itu dikoordinasi oleh komite sekolah, bukan dari pihak sekolah sendiri,” terangnya.

Namun, dia mengakui, harga jahit dari kain itu cukup mahal, mencapai Rp 800 ribu untuk kurang lebih lima seragam, di antaranya baju atasan dan bawah putih, atasan putih dan bawahan biru dan batik seragam.

“Pas itu jahit, 4 rok, 1 celana, 1 kebaya, 6 kemeja. Itu belum baju olahraga sama jas almamater. Kalau baju olahraga dan jas almamater sudah dalam bentuk jadi. Aku sih lebih suka kalau pakaian semua sudah jadi,” ucap  Yani.

Ia melanjutkan, dirinya setuju untuk ‘titip koperasi’ lantaran kain yang dibelikan juga berkualitas lebih baik.

Dia sempat membandingkan dengan kain yang dibeli dari luar dan ternyata berbeda kualitasnya.

“Kalau beli sendiri-sendiri, kadang warnanya enggak sama. Ya enggak dimarahin kalau beda warna, tapi kan kadang bocahnya rewel ya, kok punyaku beda, pasti gitu,” bebernya.

Dikatakannya, ‘titip koperasi’ ini juga tidak wajib untuk wali murid. Bagi mereka yang ingin beli seragam di luar, juga diperbolehkan.

Di program ‘titip koperasi’, wali murid juga boleh mencicil hingga beberapa bulan kain seragam yang telah dibeli.

“Aku bayar tunai saja, soalnya kalau nyicil tu kepikiran. Jadi, ya sudah sekalian saja dalam satu waktu. Buat yang tidak mampu, dipersilahkan hubungi pihak komite untuk minta keringanan. Dijamin kerahasiaannya,” jawabnya.

Ditanya perihal pakaian kebaya yang juga masuk di daftar seragam sekolah, Yani mengatakan tidak ada keseragaman dari sekolah.

Baca juga: Ramai di Twitter Minuman Kekinian Diduga Kebanyakan Gula, Dokter: Hati-hati Diabetes

“Cuma, warna luriknya harus seragam, nanti dikasih tahu mereknya. Itu ada juga di ‘titip koperasi’,” kata dia.

Ia mengibaratkan ‘titip koperasi’ sebagai one stop shop yang sudah menyediakan segalanya tanpa konsumen harus mencari kesana kemari.

“Daripada kesana kemari abis ongkos, belum jajan, belum pajak si bocil, ini sudah ada di satu tempat, jadi merasa dipermudah. Totalnya tu sebenarnya lebih dari Rp 1,8 juta untuk kain dan jahit,” tukas dia. (Ard)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved