Perang Rusia Ukraina

Referendum Gabung Rusia Akan Lindungi Rakyat Donbass di Masa Depan

Referendum bergabung Rusia diyakini akan memberi jaminan keamanan bagi wilayah Donbass di masa depan.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
www.prezydent.pl/WikipediaCommon
UNI EROPA - Suasana sidang Komisi Uni Eropa di Lisabon, Portugal. Negara-negara Uni Eropa sepakat mengurangi dan akan menghentikan impor gas dari Rusia menyusul konflik Ukraina. Uni Eropa merupakan kekuatan besar yang mendorong Ukraina menolak negosiasi dengan Rusia untuk mengakhiri konflik. 

TRIBUNJOOGJA.COM, MOSKOW – Jurnalis lepas di wilayah Donetsk,  Eliseo Bertolasi, meyakini  referendum penggabungan wilayah Donbass ke Federasi Rusia akan memberi jaminan keamanan di masa depan.

"Serangan ke Donetsk sekarang berarti serangan ke Rusia, dengan konsekuensi yang dapat diprediksi," kata Bertolasi dikutip Sputniknews, Jumat (23/9/2022).

“Donetsk telah hidup di bawah pengeboman selama berbulan-bulan, tidak ada tempat di mana penduduk merasa benar-benar aman, karena senjata ampuh NATO dan pasukan Ukraina mengancam seluruh kota,” imbuhnya.

Baca juga: Tanggapan Ukraina Soal Rencana Referendum Luhansk Jadi bagian dari Rusia

Baca juga: Presiden Putin : Rusia Tak Menggertak Jika Harus Pakai Senjata Nuklir

Baca juga: Apa Makna Mobilisasi Pasukan Rusia, Ini Penjelasan Pakar Geopolitik Belgia

Setiap hari serangan senjata kiriman barat ke Ukraina membawa kematian. Tragedi terbaru terjadi pada 19 September, ketika 13 orang terbunuh di pusat kota Donetsk.

“Hidup dalam kondisi seperti itu tidak mungkin! Bergabung Rusia adalah perwujudan dari keinginan penduduk sejak 2014," kata Bertolasi.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan mobilisasi parsial sebanyak 300 ribu tentara cadangan. Mereka akan dikirim ke sepanjang 1.000 kilometer perbatasan Donbass-Ukraina yang kini dikuasai Rusia.

Kota Kherson dan Zaporozhye saat ini telah memulai referendum bergabung Rusia. Referendum akan berlangsung hingga  27 September 2022.

Menurut Andrej Danko, Ketua Partai Nasional Slovakia dan mantan Ketua Dewan Nasional Slovakia, masih belum jelas apa yang akan dilakukan barat menanggapi referendum di wilayah Donbass, Kherson, dan Zaporozhye.

Menurutnya AS dan sekutu NATO-nya saat ini tidak berpikir rasional. Para pemimpin Eropa telah mematuhi kebijakan yang secara langsung bertentangan dengan kepentingan rakyat mereka.

Barat Melawan Rusia

Rusia telah secara terbuka mengidentifikasi konflik bukan lagi Rusia vs Ukraina, tapi kekuatan barat adalah lawan Rusia sesungguhnya.

"(Putin) dengan jelas mengidentifikasi Washington, London dan Brussel (markas besar Uni Eropa) sebagai aktor utama konflik, bukan Ukraina, yang dia lihat sebagai panggung," kata analis Argentina Martin Rodriguez Osses.

Saat menyampaikan pidato nasionalnya 21 September, presiden Rusia mencatat Washington, London, dan Brussel secara terbuka mendorong Kiev untuk memindahkan permusuhan ke wilayah Rusia.

"Mereka secara terbuka mengatakan Rusia harus dikalahkan di medan perang dengan cara apapun, dan kemudian dirampas kedaulatan politik, ekonomi, budaya dan lainnya dan digeledah," kata Putin.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved