Orasi Ilmiah Sri Sultan HB X: Kebangkitan Indonesia Melalui Gagasan Poros Maritim Dunia

Orasi Budaya Mewujudkan Indonesia Sebagai Negara Berbasis Kemaritiman, Oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Editor: ribut raharjo
Istimewa
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan Orasi Ilmiah dalam Simposium Internasional dan Lifetime Achievement – ISPEC Maritime Award 2022 

Jelas kiranya, semangat dan ketrampilan bahari yang pernah menjadi kebanggaan bangsa Indonesia perlu digali dan dikembangkan kembali di kalangan generasi muda, agar bangsa Indonesia mampu menjadi tuan di negeri mereka sendiri.

Diilhami oleh Semangat Bahari itu, upaya membangun Indonesia Baru yang lebih maju, mandiri dan bermartabat, memerlukan strategi budaya yang menyiapkan generasi muda Indonesia yang sanggup mengambil tanggung- jawab masa depan, berkeyakinan diri, dan memiliki wawasan kebaharian yang mendalam, serta didukung oleh keterampilan bahari yang memadai.

Hal ini selaras dengan apa yang dipaparkan Presiden Joko Widodo tentang visi kelautan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, dalam Konferensi Tingkat Tinggi Negara-negara Asia Timur (KTT EAS) di Myanmar, 13 November 2014.

Untuk mewujudkan konsep Poros Maritim Dunia itu, diperlukan empat kekuatan yang mendorong kejayaan sebuah peradaban maritim.

Pertama, Ocean Leadership dan Ocean Policy yang dapat menjaga kedaulatan bangsa dengan terwujudnya visi maritim yang hebat, didukung kemampuan diplomasi yang tangguh.

Kedua, bangsa yang memiliki kesadaran budaya kelautan, karena budaya darat seakan memarjinalkan kesadaran terhadap luas lautan dengan segala isinya.

Ketiga, kekuatan infrastruktur dan perhubungan yang menghubungkan antar pulau dengan mudah dan murah.
Singapura justru lebih mengambil keuntungan ekonomi dari persinggahan kapal asing.

Keempat, kekuatan potensi sumber daya lautan yang membentang luas dan daratan yang subur. Poros maritim harus didukung oleh sektor pertanian yang tangguh sebagai tulang punggung sektor maritim yang andal.
Ada sejumlah deep seaport yang dikembangkan sebagai pintu ekspor- impor, seperti yang dibangun dengan konsep Pendulum Nusantara di Medan, Batam, Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Sorong. Kota-kota tersebut dilengkapi kawasan pergudangan, bongkar-muat dan distribusi domestik modem berbasis IT Management-single gateway.

Di darat, infrastruktur Tol Laut ini diintegrasikan dengan moda transportasi massal, seperti: double track railway dan sea highway untuk distribusi logistik ke wilayah pedalaman maupun antar wilayah yang berdekatan dan akses ke bandara untuk kombinasi angkutan lintas udara, khususnya jenis perintis. Prioritas pembangunan jalur mengikuti dinamika pertumbuhan potensi dan komoditas unggulan setempat.

Dengan adanya pilar dan konsep Poros Maritim Dunia tersebut, maka Prioritas Pembangunan Maritim memang harus diwujudkan, sebagai garda peradaban Indonesia masa depan, yang menjamin kehidupan ekonomi, sosial dan politik, serta marwah Indonesia di percaturan politik global.

Dan jika kita berkehendak menggeser orientasi pembangunan menuju skala dunia, maka tidak lain kita harus mulai memperkuat basis pendidikan bidang kelautan.

Oleh sebab itu, pendidikan Indonesia setidaknya harus berorientasikan pada tatanan Benua Maritim Indonesia. Selain itu, perlu bagi kita untuk memperkuat fungsi pengawasan.

Dengan berbagai potensi yang melingkupinya, kemaritiman akan menjadi salah satu solusi kunci dalam berbagai permasalahan global di masa depan.

Bagaimanapun, sejatinya, Revitalisasi Semangat Nusantara itu tidak lain adalah Wawasan Nusantara Bahari yang tampaknya perlu dibangkitkan kembali, guna mempercepat kebangkitan Indonesia melalui gagasan Poros Maritim Dunia.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved