Orasi Ilmiah Sri Sultan HB X: Kebangkitan Indonesia Melalui Gagasan Poros Maritim Dunia

Orasi Budaya Mewujudkan Indonesia Sebagai Negara Berbasis Kemaritiman, Oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Editor: ribut raharjo
Istimewa
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan Orasi Ilmiah dalam Simposium Internasional dan Lifetime Achievement – ISPEC Maritime Award 2022 

Orasi Budaya Mewujudkan Indonesia Sebagai Negara Berbasis Kemaritiman, Oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X

TRIBUNJOGJA.COM - Di tataran global, dinamika pergeseran pusat perhatian dan kegiatan dunia semakin bergeser ke arah Timur.

Sebagaimana telah diramalkan oleh Naisbitt dan Aberdene dalam Megatrend 2000, pusat perkembangan dunia yang dulunya berada di Mediteranian dan Atlantik, kini telah beralih ke Indo-Pasifik.

Sejumlah negara telah menyiapkan dan melaksanakan strategi menghadapi pergeseran ini, baik secara bilateral maupun multilateral.

Negara-negara di sekitar Samudra Hindia telah tergabung dalam Indian Ocean Rim Association. Tiongkok menginisiasi strategi “Belt and Road”, sedangkan Jepang meluncurkan strategi "Free and Open Indo-Pacific".
Sementara itu, Amerika memiliki program “Indo-Pacific Strategy”, dan pada saat yang sama Amerika – Jepang – India – Australia bersama-sama membentuk QUAD yang kini meluas dengan bergabungnya sejumlah negara Eropa.

Pergeseran ini pada akhirnya menempatkan Kepulauan Indonesia kembali menjadi persilangan strategis, sebagaimana zaman kejayaan bahari Nusantara beberapa abad silam. Indonesia sendiri, telah berusaha menempatkan diri sebagai Poros Maritim Dunia.

Sehingga menjadi relevan pula, apabila beberapa isu terkini terkait Samudera Hindia menjadi perbincangan aktual oleh negara-negara IORA (The Indian Ocean Rim Association).

Dan memang--selaras dengan apa yang disampaikan Mathew dan Ghiasy--bahwa Indonesia patut menaruh perhatian, gayut dengan dengan posisi Indonesia yang memangku Samudera Hindia, yaitu: (i) Blue Economy, (ii) Collaboration and Global Governance, dan (iii) The Maritim Silk Road.

Terkhusus eksistensi Jalur Sutera Maritim, pada masa selama perang dingin, memang Samudera Hindia tidak pernah menjadi daya tarik kepentingan ekonomi dan politik bagi negara-negara tertentu, terutama Amerika, Jepang, Cina, dan negara-negara Eropa.

Namun, konstelasi mulai berubah pada awal tahun 2000-an, ketika konflik perairan China Selatan mengemuka, dan Samudera Hindia muncul ke permukaan sebagai wilayah ekonomi dan politik yang sangat penting (Singh, 2022).

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved