Berita Bantul Hari Ini

Hotel dan Restoran di Bantul Tak Naikkan Tarif Meski Terdampak Kenaikan Harga BBM

Para pelaku jasa usaha pariwisata merasakan dampak dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Penulis: Santo Ari | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Santo Ari
Yohanes Hendra Dwi Utomo menjadi Ketua Badan Pengurus Cabang (BPC) Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Bantul setelah dilantik dalam Musyawarah Cabang BPC PHRI Bantul di Hotel Ros In, Rabu (21/9/2022), 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Para pelaku jasa usaha pariwisata merasakan dampak dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Ketua Badan Pengurus Cabang (BPC) Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Bantul, Yohanes Hendra Dwi Utomo, menyayangkan adanya kenaikan harga BBM di saat pariwisata perlahan mulai bangkit setelah diterpa pandemi Covid-19.

Dalam Musyawarah Cabang BPC PHRI Bantul di Hotel Ros In, Rabu (21/9/2022), Hendra mengungkapkan kenaikan BBM dampaknya cukup mengganggu bagi pelaku jasa usaha pariwisata seperti hotel, restoran, dan juga destinasi wisata karena tidak dibarengi dengan kenaikan pendapatan bagi para tenaga kerjanya.

"Otomatis anggota kami mengeluh karena para pekerja tidak dibarengi dengan peningkatan pendapatan," ujar Hendra yang terpilih sebagai ketua BPC PHRI Bantul untuk periode 2023 sampai 2028 mendatang dalam Musyawarah Cabang hari itu.

Meski menyayangkan adanya kenaikan harga BBM, namun Hendra juga mengakui bahwa hal itu tidak bisa dihindari karena sudah menjadi kebijakan dari Pemerintah Pusat.

Maka dari itu, pihaknya akan meminta Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Bantul untuk sama-sama memperhatikan kondisi kesejahteraan pada pekerja usaha jasa pariwisata.

Hendra juga mengatakan, selain berdampak pada kondisi pekerja, kenaikan harga BBM juga berdampak pada tingkat kunjungan wisatawan.

Pria yang juga menjabat sebagai Food And Beverage Manager Little Tokyo (Litto) ini mencontohkan kunjungan ke Litto yang biasanya dalam sehari bisa mencapai 600 orang, saat ini hanya setengahnya.

Kondisi lantaran biaya perjalanan wisata menjadi lebih mahal seiring naiknya harga BBM.  

"Misalnya untuk sewa bus dari yang biasanya Rp1,4 juta dalam sehari saat ini sudah mencapai Rp1,8 juta dalam sehari. Kuota sama, harga yang naik," ungkapnya.
 
Adapun anggota PHRI Bantul yang aktif saat ini berjumlah 47 dan kebanyakan adalah restoran.

Meski terdampak kenaikan harga BBM, Hendra menyatakan bahwa hotel dan restoran belum berani menaikan tarif, baik harga makanan maupun kamar.

"Kalau kami naikan, maka akan jadi blunder bagi kami. Maka yang dilakukan adalah menghemat pengeluaran seperti listrik, air dan sebagainya, supaya revenue yang kita dapatkan tetap stabil," terangnya.  

Selain itu, upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kunjungan wisata adalah dengan menggencarkan promosi.  

Pengurus Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Bantul, Malia Sayuti, mengatakan pihaknya selalu berupaya untuk terus memasarkan potensi pariwisata di Bumi Projotamansari untuk menggaet wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Di antaranya adalah dengan menggelar Jogja Travel Mart yang bekerja sama dengan Dinas Pariwisata DIY, kemudian ada program camping atau bermalam di destinasi wisata.

Lebih jauh ia mengabarkan, pada 20 Oktober 2022 mendatang akan ada pertemuan semua travel agen dan pengelola destinasi wisata.

"Pada 21-25 Oktober juga ada pameran destinasi wisata di JCM, pengelola wisata bisa menjual langsung kepada customer. Jadi sebenarnya kita terus berjualan," tandasnya. (*) 

 

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved