Ini Metode Baru Deteksi Glaukoma Sejak Dini, Pakai Penanda Biologi Cairan di Bola Mata

Perlu adanya intervensi mencegah glaukoma yang menyebabkan kerusakan pada saraf mata akibat tingginya tekanan di dalam bola mata itu.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA/Ardhike Indah
Dokter spesialis mata dari JEC Eye Hospital and Clinics, Dr dr Emma Rusmayani yang meneliti metode baru deteksi glaukoma sejak dini dalam disertasi program doktoral di FKKMK UGM, Selasa (20/9/2022) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Glaukoma masih menjadi momok bagi sebagian besar masyarakat karena bisa tiba-tiba mencuri penglihatan tanpa meninggalkan gejala signifikan.

Untuk itu, perlu adanya intervensi mencegah glaukoma yang menyebabkan kerusakan pada saraf mata akibat tingginya tekanan di dalam bola mata itu.

Salah satu intervensi yang sudah diteliti adalah meninjau kadar ischemia-modified albumin (IMA) pada humor akuos (HA) dan serum darah sebagai penanda iskemia lokal dan sistemik pada glaukoma primer.

Penelitian tersebut merupakan hasil disertasi Dr dr Emma Rusmayani SpM(K) yang diujikan di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (20/9/2022).

Emma sendiri merupakan dokter spesialis mata dari JEC Eye Hospital and Clinics.

Adapun penelitiannya berjudul ‘Tinjauan Kadar Ischemia-Modified Albumin, Tumor Necrosis Factor Alfa, dan Malondialdehyd pada Humor Akuos dan Serum Darah sebagai Penanda Iskemia Lokal dan Sistemik pada Glaukoma Primer’.

“Jadi, penelitian saya ini memeriksa kadar penanda biologi dalam cairan dalam bola mata. Kelebihannya, itu dapat mendeteksi glaukoma sejak dini, daripada model pengecekan yang lama. Biasanya, dokter bisa mengecek pasien glaukoma apabila kerusakan di mata sudah mencapai 50 persen,” ujar Emma seusai ujian terbuka program doktor di Ruang Auditorium Gedung Pascasarjana Tahir, FKKMK UGM.

Kesimpulan dalam penelitian itu adalah, kadar IMA HA dapat menggambarkan kondisi iskemia kronik struktur anterior bola mata.

Apabila nilai kadar IMA HA > 9,5 ng/ml bisa menjadi biomarker pasien probable glaukoma.

Kadar IMA HA yang muncul ini kemudian bisa dijadikan penanda biologis diagnosis dini pasien glaukoma.

Ia mengatakan, kelebihan dari cara pengecekan glaukoma yang ia teliti adalah kesederhanaannya.

Sehingga, hal itu memungkinkan klinik mengambil sampel dari bagian dalam bola mata dengan biaya yang lebih murah.

Pasien pun bisa mengecek indikasi terserang glaukoma sejak dini sebelum penyakit itu benar-benar merenggut penglihatan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved