Berita Jogja Hari Ini

Mayoritas Sungai di DI Yogyakarta Masih Tercemar, Ini Pesan Walhi DIY

Mayoritas sungai di wilayah DI Yogyakarta masih masuk dalam kategori tercemar sedang. Hal itu terungkap setelah Dinas Lingkungan Hidup

TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Mayoritas sungai di wilayah DI Yogyakarta masih masuk dalam kategori tercemar sedang.

Hal itu terungkap setelah Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY melakukan pengambilan sampel untuk mengetahui nilai Indeks Kualitas Air (IKA) di 10 sungai yang ada di wilayah DI Yogyakarta.

10 sungai tersebut meliputi Sungai Winongo, Code, Gajahwong, Tambakbayan, Kuning, Konteng, Bedog, Belik, Bulus, dan Oyo.

Baca juga: Pemkot Yogyakarta Bakal Luncurkan 6 Sentra IKM di Penghujung 2022

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup ( Walhi ) Yogyakarta, Halik Sandera mengungkapkan, pemerintah setempat perlu fokus menangani sumber pencemaran untuk memperbaiki Indeks Kualitas Air (IKA) sungai.

Salah satunya disumbang limbah rumah tangga yang umumnya memicu pencemaran di kawasan bantaran sungai padat penduduk.

Halik menuturkan, karakteristik masyarakat yang bermukim di bantaran sungai umumnya berasal dari kalangan ekonomi rendah dan memiliki lahan yang terbatas. 

Mereka tak mampu mengadakan sistem sanitasi yang baik sehingga banyak warga memilih untuk membuang limbahnya ke sungai.

Karenanya, kehadiran pemerintah diperlukan seperti dengan membangun fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dapat digunakan secara komunal.

Pemerintah juga perlu memetakan titik-titik mana saja yang belum memiliki IPAL sehingga pengadaan fasilitas pengelolaan limbah dapat dilakukan di wilayah tersebut.

"Juga bagaimana kemudian memaksimalkan IPAL yang ada. Beberapa titik perlu dilakukan perawatan secara reguler sehingga saat (limbah) masuk ke sungai  itu kualitas outletnya lebih baik," kata Halik, Rabu (14/9/2022).

Lebih lanjut, Pemda DIY juga perlu mengawasi agar IPAL-IPAL dari kegiatan industri dan tempat usaha sudah bekerja secara optimal. Ini untuk memastikan supaya air yang dibuang ke lingkungan aman dari pencemaran.

"Misal Sungai Gajahwong yang dilewati bonbin (GL Zoo) pasti buangannya (limbah) ke badan air lalu di selatannya lagi juga ada pabrik kulit. Apakah secara kualitas IPAL-nya sudah termonitoring dengan baik," jelasnya.

"Pengawasan terhadap industri juga harus diikuti dalam konteks penegakan hukum. Sebuah industri seharusnya punya kemampuan finansial membuat IPAL," sambungnya.

Halik menjelaskan, sungai juga memiliki daya dukung dan daya tampung lingkungan. Sehingga pemerintah seharusnya tidak lagi menerbitkan izin pembuangan limbah jika sungai tersebut sudah masuk dalam katagori tercemar berat.

Baca juga: Senapati Nusantara Akan Gelar Pameran dan Bursa Tosan Aji, Hadirkan Keris Langka era Majapahit

"Hal-hal ini juga perlu dicermati sehingga ke depan izin-izin membuang limbah ke badan air sudah tidak disetujui kalau ada perusahaan yang akan membuang ke sungai," tegasnya.

Hal lain yang tak kalah penting adalah melestarikan sumber mata air bersih di wilayah DI Yogyakarta. Dengan memastikan keberlanjutan sumber air bersih di hulu juga akan berimbas pada kondisi kualitas air sungai di Yogya.

"Bagaimana kemudian harus menjaga keberlanjutan mata air ini yang juga menjadi penyuplai dari sungai itu sehingga secara input lebih banyak air bersihnya," bebernya. (tro)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved