Berita Bisnis Terkini

Sejak Kenaikan Harga BBM Subsidi Diumumkan, Terjadi Cancel Hotel di DIY Sebesar 30 Persen

Yang biasanya okupansi 60 sampai 70 persen,  sekarang baru mencapai 50 persen setelah harga BBM naik.

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Gaya Lufityanti
Pixabay.com / Ming Dai
ilustrasi hotel 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Semenjak pemerintah mengeluarkan kebijakan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak ( BBM ) bersubsidi, okupansi hotel di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) turut terkena imbasnya karena terjadi penurunan pemesanan kamar secara drastis.

"Yang biasanya okupansi 60 sampai 70 persen,  sekarang baru mencapai 50 persen setelah harga BBM naik," kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia ( PHRI ) DIY Deddy Pranawo Eryano, Minggu (11/9/2022)

Menurut dia, penurunan okupansi paling parah dirasakan hotel bintang dua ke bawah.

Untuk hotel bintang tiga hingga bintang lima tetap terdampak, namun masih tertolong kegiatan-kegiatan formal.

Baca juga: Kenaikan Harga BBM Subsidi, PHRI DIY Minta Diskon Pajak 5 Persen

"Misalnya meeting, Incentive, convention, exhibition (MICE) dari instansi pemerintah maupun swasta," jelasnya.

Deddy menuturkan penurunan tingkat hunian itu disebabkan banyaknya penundaan maupun pembatalan pemesanan kamar hotel dengan persentase mencapai 30 persen. 

"Pembatalan 30 persen itu banyak ya meskipun lebih rendah dibandingkan saat pandemi," kata dia. 

Naiknya biaya transportasi, menurut Deddy, memicu para tamu hotel terpaksa menunda atau membatalkan agenda wisata ke kota gudeg. 

"Karena biaya transportasinya naik otomatis yang pakai bus, rombongan kecil maupun besar menunda atau membatalkan karena saat tarif (transportasi) mau dinaikkan mereka enggak mau," ujar dia.

Baca juga: PHRI DIY Klaim Investor Banyak Berpindah ke Daerah Lain

Kondisi itu, membuat para pelaku usaha perhotelan gamang untuk menaikkan tarif layanan di saat daya beli masyarakat sedang menurun. 

"Ini menjadi dilematis bagi kami. Daya beli masyarakat turun, tetapi di sisi lain biaya operasional kami naik," kata dia.

Para pelaku usaha hotel anggota PHRI DIY, kata dia, saat ini tengah merumuskan langkah yang tepat untuk meringankan beban operasional. 

"Menaikkan tarif dilematis bagi kami, tapi mau tidak mau kalau nanti kita berat ya kita sepakati naik dengan konsekuensi menggaet wisatawan dengan pangsa pasar yang selektif," pungkasnya. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved