Berita Kabupaten Magelang Hari Ini

Seniman di Magelang Sinergikan Hubungan Alam dan Manusia Melalui Ritual Air dan Tanah

Seniman dan budayawan Indonesia menggelar ritual air dan tanah sebagai proyeksi hubungan alam dan manusia, di Balkondes Karangrejo, Borobudur,

TRIBUNJOGJA.COM/ Nanda Sagita Ginting
Prosesi ritual air dan tanah sebagai proyeksi hubungan alam dan manusia, Kamis (08/09/2022) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Seniman dan budayawan Indonesia menggelar ritual air dan tanah sebagai proyeksi hubungan alam dan manusia, di Balkondes Karangrejo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (08/09/2022).

Adapun, air yang dipakai berasal dari sumber mata air, dan tanah diambil dari 20 desa yang ada di kawasan Candi Borobudur.

Baca juga: PENGUMUMAN, BLT BBM untuk 86.578 Warga Sleman Mulai Dicairkan Besok Jumat

Prosesi ritual dimulai dengan meminum minuman rempah yang diseduh dengan air tadi.

Rempah-rempah itu, merupakan sumber daya alam dari warga sekitar yang terpahat di relief Candi Borobudur, seperti bunga telang.

Dilanjutkan, dengan membaca syair-syair yang berisikan untuk mengingat kehidupan manusia dan alam harus saling melengkapi.

Kurator Ritual Air dan Tanah, Ismal Muntaha mengatakan, ritual tersebut menggambarkan bahwa manusia sedang berdialog dengan alam sekitar.

"Di mana, dipilihnya tanah itu karena sebagai fondasi utama soal kehidupan berkelanjutan begitupun dengan air. Sedangkan, tanah ini juga sebagai tempat tumbuhnya rempah-rempah. Maka dari itu, kami munculkan juga sebagai aspek-aspek dalam kehidupan," ungkapnya.

Ia melanjutkan, kemudian tanah yang berasal dari 20 Desa di kawasan Candi Borobudur tadi dibagikan kepada Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Hilmar Farid serta orang-orang yang dituakan dari masing-masing desa tersebut.

Baca juga: FKY 2022 Usung Tema Merekah Ruah, Akan Digelar 12-25 September 2022

Orang-orang tadi diminta memegang gunungan tanah dari 20 desa itu, sembari dipercikkan air yang berasal dari sumber mata air itu.

"Jadi maksud dari rangkaian kegiatan itu, mulai dari minum yang masuk kedalam tubuh, memegang gunungan tanah, hingga dipercikkan air. Untuk merasakan sinergi antara manusia dan alam bahwasannya kita hidup berdampingan, dan ini harus dijaga untuk kehidupan berkelanjutan," tutupnya. (ndg)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved